NABIRE – Perwakilan masyarakat dari Suku Dani, Rabu (2/4) siang melakukan pemalangan helikopter. Selain itu, warga juga mendatangi Mapolres Nabire terkait penyelesaian lokasi atau tepatnya lobang pendulangan yang tembus di lokasi 81 dan Wing3 Amano. Pasalnya, areal dulang yang sekarang dipersoalkan tersebut secara umum adalah wilayah Wing3. Selain itu, ada dugaan ‘aksi cowboy’ dari oknum anggota Brimob BKO Polres Paniai yang diduga didatangkan dan memback up untuk mengamankan daerah tersebut yang notabene dari satu pihak saja. “Kami masyarakat asli Papua yang ingin berusaha dan berkerja di tanah kami. Dan ingin maju, sama dengan saudara kita yang lain. Namun ketika ada saudara kita yang malah buat sesuatu yang kurang benar, kami tentunya tidak terima,” kata Nus Jingga, pengusaha muda asli Papua dalam keterangan kepada wartawan disela-sela aksi pemalangan.Semestinya, kata dia, saudara kita juga membantu atau berkerjasama dengan baik, bukan malah saling menjatuhkan. Kita sama-sama berusaha dan berkerja. Sebenarnya persoalan lobang tembusan ini sebelumnya diselesaikan dengan baik. Namun belakang malah muncul masalah baru, salah satunya terkait hadirnya Brimob di lokasi itu.Untuk itu, lanjut Nus, pihaknya minta selesaikan dulu masalah ini, jangan sampai menimbulkan masalah baru bahkan dapat membuat masalah ini menjadi besar. Untuk sementara waktu, masyarakat palang heli di Bandara Nabire sebelum ada kejelasan dan penyelesaian masalah ini. “Helykopter tidak boleh beroperasi sebelum masalah lobang Wing 3 dan 81 diselesaikan secara tuntas. Kami anak negri dan anak adat merasa dirugikan dan aparat keamanan yang dibayar atau ada disana untuk kepentingan oknum dan pengusaha tertentu, kami tolak,” tegasnya yang dituangkan pula dalam pamflet yang dipasang di areal bandara sekitar Heliped Bandara Nabire.     “Saudara kami ini (Nus Jingga, red) telah banyak membantu masyarakat, membantu gereja dan lainnya. Dan beliau ini telah banyak memberikan kontribusi dan jasa untuk masyarakat kami,” tutur perwakilan masyarakat Dani, Petrus Aso.Lanjut Petrus, jika Nus Jingga dalam usahanya diganggu atau ada masalah dengan pihak lain, maka pihaknya akan ada untuk membantu. Terkait dengan persoalan lokasi atau lobang yang saling tembus antara lokasi milik Nus Jingga (Wing3) dengan Haji Ari (81), itu sebenarnya adalah masuk wilayah Wing3. Dan ini harus diselesaikan secepatnya. Hal senada juga disampaikan Sem Wanimbo, Kepala Suku Dani dari Nabire Barat. Sem Wanimbo menjelaskan, persoalan ini semestinya tidak sampai merembet kemana-mana kelak. Harapnya juga karena persoalan lokasi dulang itu adat kami harus diselesaikan secara tuntas. Sehingga kedepan tidak saling klaim mengkliam satu sama lain.Kalau masalah ini tidak segera diselesaikan dengan baik, lanjutnya, maka tentunya akan berdampak negatif kegiatan pendulangan emas di Degeuwo Kabupaten Paniai, termasuk di Nabire. Pasalnya base camp helicopter ada di Nabire. Untuk itu, masalah ini harus segera dituntaskan, apalagi mengingat saat ini masalah politik Pemilu Legislatif. Pantauan media ini, aksi pemalangan yang dilakukan sedikitnya 50 orang dari perwakilan masyarakat Dani, pemilik, pekerja dan pengusaha emas Degeuwo ini usai melakukan pemasangan pamflet aspirasi, massa kemudian menuju Mapolres Nabire untuk menyampaikan aspirasi kepada pihak Polres Nabire, khusus terkait aparat keamanan Brimob yang melakukan pengamanan.Menyangkut hal ini, Kapolres Nabire AKBP. Tagor Hutapea, menerima aspirasi dan tuntutan masyarakat ini. Dan selanjutnya pihak Polres Nabire akan melakukan koordinasi dengan Polres Paniai, lantaran wilayah hukum Degeuwo merupakan Wilkum Polres Paniai. Termasuk dalam beberapa hari ini akan menemukan kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah tersebut. (wan)