NABIRE - Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire yang kini menjadi salah satu Perguruan Tinggi (PT) terbesar di wilayah tengah Provinsi Papua, tidak terlepas dari peran Tokoh Masyarakat (Tomas) dan Tokoh Agama (Toga). Dimana, pembentukan dan pendiriannya telah dilakukan oleh para Tomas dan Toga yang ada di Kabupaten Nabire yang peduli terhadap pendidikan tinggi. Para tokoh dimaksud, benar-benar memiliki harapan dan motivasi yang tinggi untuk menghadirkan suatu universitas yang memiliki berbagai disiplin ilmu sebagai upaya untuk menjawab tuntutan kebutuhan masyarakat akan sebuah perguruan tinggi yang representatif di Nabire. “Hal ini dimaksudkan agar dengan mudah dijangkau oleh masyarakat terutama anak-anak negeri yang ada di wilayah tengah Provinsi Papua, dimana sebelumnya mengalami kesulitan dalam melanjutkan studi ke perguruan tinggi yang sesuai dengan cita-cita dan pilihan disiplin ilmu atau jurusan dan program studi (prodi) yang dibutuhkan,”. Demikian diungkapkan Rektor USWIM Nabire, Drs. P.I.Suripatty, M.Si dalam perbincangannya dengan media ini soal latar belakang pembentukan dan pendirian USWIM di Nabire.Diceritakannya,  mengingat lokasi PT yang jaraknya jauh dan tentunya biaya cukup yang mahal, juga pada saat itu PT yang besar yang ada di wilayah tengah Provinsi Papua jumlahnya sangat terbatas yaitu, (1). Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) dengan dua jurusan yaitu, Administrasi Negara dan Administrasi Niaga. (2), Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) dengan tiga jurusan yaitu, Pertanian, Peternakan dan Perikanan. “Dalam situasi dan kondisi untuk menghadirkan sebuah universitas yang baru sebagi upaya untuk menjawab kebutuhan masyarakat, pendiri USWIM diperhadapkan pada situasi yang sangat sulit yaitu dengan adanya kebijakan pemerintah pusat dalam hal ini Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang tidak lagi mengizinkan adanya pendirian PT baru dan penambahan prodi baru dari PT yang sudah ada, dimana hanya hanya dapat dizinkan adalah penggabungan dua atau lebih PT menjadi suatu PT atau Universitas,” ujarnya.Tambahnya, akhirnya para Tomas, Toga, pimpinan yayasan Satya Wiyata Mandala Nabire dan Pimpinan PT STIA dan STIPER Satya Wiyata Mandala Nabire sepakat untuk menyusun dan memperjuangkan proposal penggabunggan STIA dan STIPER menjadi Universitas Satya Wiyata  Mandala (USWIM) Nabire yang mendapat dukungan yang sangat luar biasa Bupati Nabire saat itu.Lebih lanjut kata Suripatty, perjuangan dalam mendirikan dan menghasilkan USWIM dengan berbagai keterbatasan, mendapat jawaban dan respon yang sangat luar biasa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI saat itu, Prof. Malik Fajar, M.Si dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor.143/D/O/2004 tanggal 6 September 2004 tentang Izin Operasional Pendirian USWIM Satya Wiyata Mandala Nabire dengan 5 Fakultas yaitu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Keguran dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Pertanian dan Peternakan (FAPERTANAK), Faluktas Perikanan dan Kelautan (FAPERKEL) dan Fakultas Teknologi dan Rekayasa (FATEKSA). “Dari lima fakultas tersebut, memiliki 15 prodi dan pada tanggal 6 September 2004 tersebut dijadikan sebagai hari lahirnya atau Dies Natalis USWIM dan tanggal 18 Oktober 2004 SK tentang izin opersional pendirian USWIM diserahkan langsung oleh Dirjen DIKTI yang pada saat itu dijabat oleh Prof. Dr.Satrio Soemantri Brojonegoro dan sekaligus ditugaskan untuk meresmikan berdirinya USWIM sebagai satu universitas swasta pertama yang resmi di wilayah tengah Provinsi Papua di kota Kabupaten Nabire tepatnya Kelurahan Kalibobo,” ujarnya.Dijelaskannya, dalam sejarah perkembangan USWIM sebagai PT swasta sejak diresmikan hingga kini sudah berusia lebih dari 10 tahun dan telah terjadi tiga kali pergantian kepemimpinan rektor yaitu, Drs. L.B.Samosir (2004-2006), Didimus Mote, SH.M.Si (2006-2014) dan Drs. P.I.Suripatty, M.Si (2014 sampai dengan saat ini). Secara akademik, 5 fakultas dengan 15 prodi telah terjadi perubahan, dimana dari 15 prodi saat ini berubah menjadi 12 prodi.Hal ini disebabkan oleh adanya aturan DIKTI tentang penggabungan prodi sehingga 2 prodi pada fakultas pertanian dan peternakan yakni prodi Nutrisi makanan ternak dan prodi produksi ternak digabungkan menjadi prodi peternakan serta 2 prodi jenjang Diploma Tiga (D3)peternakan dan administrasi bisnis ditiadakan karena tidak adanya peminat/calon mahasiswa. “Saat ini, 12 prodi yang ada di USWIM telah terakreditasi dari BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi) dan kini telah menghasilkan sarjana dari berbagai  disiplin ilmu lebih dari 2.300 sarjana atau alumni. Secara akademik, USWIM telah berhasil menunjukkan peran dan pengabdiannya sebagai sebuah PT yang telah menghasilkan SDM yang berkualitas dalam membangun bangsa dan Negara Indonesia terutama di Provinsi Papua khususnya di wilayah Meepago, Lapago dan Saireri,” ungkap Suripatty yang juga adalah kandidat doktor ini. (rik)