NABIRE - Sebagai pemuda yang punya peduli terhadap lingkungan, Aswadi Hamid angkat bicara terkait sampah dan bagaimana solusinya. Akhir-akhir ini, kita semua seluruh lapisan masyarakat, dari aparat pemerintahan hingga masyarakat umum Nabire, memiliki niat suci dan harapan yang baik untuk memerangi sampah dalam rangka mewujudkan Nabire Kota Bersih. Sebut saja pada beberapa waktu yang lalu telah dicanangkan Bupati Nabire, Isaias Douw,S.Sos dengan agenda Jumpa Berlian (Jum’at Pagi Bersih Lingkungan). Program yang dilahirkan dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Nabire ini, hendaknya dijadikan oleh seluruh komponen masyarakat untuk dijadikan penyemangat dalam memerangi sampah demi penyelamatan lingkungan serta memerangi penyakit malaria. Sebab biar bagaimanapun juga Penyakit Malaria adalah penyakit yang disebarkan oleh nyamuk dan sangat erat hubungannya dengan kondisi lingkungan yang kotor tak terkendali dengan sampah yang berserakan.“Apresiasi yang perlu diberikan kepada Kepala Lembaga Kemasyarakatan (KALAPAS) Nabire yang telah memerangi sampah dengan memberdayakan warga binaannya, yang pada akhirnya dapat menumbuh kembangkan kesadaran akan arti pentingnya kebersihan lingkungan,” ungkap Aswadi.Lanjut Hamid, penghargaan juga patut diberikan kepada Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Nabire yang beberapa waktu lalu telah mengajak warganya untuk membersihkan lingkungan dalam bentuk yang unik berupa Lomba Pungut Sampah di Pantai Nabire.“Yang paling utama adalah Apresiasi kepada Bupati Nabire, TNI-Polri beserta jajaran pemerintahan lainnya, baik itu Sekda, Pamong Praja, Tenaga Honorer serta instansi terkait yang selalu mengadakan kerja bhakti tanpa mengenal lelah sebagai upaya untuk menciptakan Nabire yang nyaman dan bersih,” tutur Aswadi HamidMelalui media ini, Aswadi Hamid menyampaikan bahwa kerja bhakti perlu digalakkan, akan tetapi membangun kesadaran, memberikan pengetahuan kepada masyarakat juga penting dan berikut ada 3 (tiga) langkah yang perlu kita laksanakan bersama.Pertama, menurutnya, perlunya adanya regulasi tentang sampah dan penegakannya.Regulasi ini akan mengikat setiap individu masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kedua, perlunya penyediaan lahan khusus untuk TPS dan TPA yang jauh dari pemukiman. Tempat Pembuangan Sementara (TPS), kata Aswandi, belum jelas penyediaan bagi masyarakat, sehingga kebanyakan membuang sampah di pasar, di pinggiran jalan, sudut-sudut kota dan ke pantai. Ketiga, lanjutnya, perlu menjadi perhatian bersama bahwa tempat-tempat tersebut bukan TPS, khususnya di pasar. “Pasar merupakan aktifitas jual beli masyarakat yang setiap harinya dikunjungi oleh banyak orang terutama kaum hawa dan juga tentunya banyak bahan makanan yang diperdagangkan, sehingga menuntut perlunya dijaga kebersihannya, mengangkat sampah setiap saat, yang telah terkumpul di tempat yang disediakan dan bukan menjadi TPS,” ungkap Aswadi.Lanjut Aswadi, demikian halnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang perlu disediakan jauh dari pemukiman. Dikarenakan apabila tidak terkontrolnya sampah akan membawa rentetan dampak yang fatal. Sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi sarang berkembangnya organisme dan menarik binatang seperti lalat dan anjing yang sangat rentan membawa virus. Dari segi medis, penyakit yang bisa timbul merupakan penyakit-penyakit yang mewabah seperti diare, kolera, jamur kulit, cacing pita dan tifus (jenis ini menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah yang bercampur air minum). Lalu penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat.Tambah Aswadi, dampak lainnya adalah, sangat besar kemungkinan sampah yang dibuang sembarangan  mengandung racun. Dalam sebuah penelitian tentang sampah yang di keluarkan oleh Swisscontact dalam buku ”sampah” terbitan tahun 1999, dituliskan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.  ”Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan bisa mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah di air menghasilkan asam organik dan gas-cair organik, seperti metana yang dapat mengganggu eksosistem pantai”, terang Aswadi Hamid*Penyadartahuan Bagi Warga Masyarakat Berbicara tentang penyadartahuan bagi masyarakat tentang sampah dan cara penanganannya sangat diperlukan baik di tingkat anak usia dini, pelajar, mahasiswa, perkantoran, dunia usaha, dan seluruh komponen masyarakat lainnya.Penyadartahuan ini dapat dilakukan melalui penyuluhan yang insentif melalui media cetak maupun elektronik, pemasangan bahan publikasi dan pesan-pesan moral disetiap sudut kota, penanganan sampah rumah tangga yang mudah dengan metode Reuse, Reduce dan Recycle (menggunakan kembali, mengurangi dan mendaur ulang), serta cara-cara kreatifitas lainnya yang tentunya perlu melibatkan semua pihak bergandengan tangan memerangi sampah.”Mari kita bersama-sama perangi sampah untuk kepentingan bersama. Biaya mahal itu pasti untuk penanganan sampah, namun jauh lebih mahal biaya yang diperlukan untuk mengatasi dampak yang diakibatkan oleh sampah,” ujar Aswadi Hamid mengakhiri komentarnya. (wan)