Toleransi Pemakaman Pdt. Wartono
NABIRE - Kemarin Jemaat GBI Karang Mulia bertoleransi dengan umat beragama lainnya yang berkumpul di Gereja GBI Karang Mulia untuk mengikuti jalannya pemakaman Pdt. Pemb. (Alm) Wartono, yang dilaksanakan secara toleransi. Alm. Wartono yang meninggal dilingkungan Kelur
Bagikan
NABIRE - Kemarin Jemaat GBI Karang Mulia bertoleransi dengan umat beragama lainnya yang berkumpul di Gereja GBI Karang Mulia untuk mengikuti jalannya pemakaman Pdt. Pemb. (Alm) Wartono, yang dilaksanakan secara toleransi.
Alm. Wartono yang meninggal dilingkungan Kelurahan Karang Mulia dengan meninggalkan dua orang anak dan seorang istri. Almarhum dikenal seorang bapak yang baik dalam menggembalakan keluarga di lingkungan kediamannya. Jemaat GBI Karang Mulia melakukan pemakaman (Alm) Wartono diikuti juga oleh umat agama yang lain yang sama-sama menghadiri di Gereja GBI Karang Mulia tak ketinggalan para simpatisan, (Alm) Wartono. Acara melayat pertama-tama dibuka dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Aan Susanto yang lebih akrab dikenal masyarakat adalah dokter Aan dalam khotbah Pdt. Aan Susanto menjelaskan kepada Jemaat GBI Karang Mulia maupun umat yang melayat secara toleransi bahwa kematian bukan satu ukuran pada usia tertentu atau kematian itu bukan syarat-syarat artinya seseorang itu harus lanjut usia baru mati tetapi kematian itu merupakan kodrat (kehendak) dan bukan nasib. Oleh sebab itu kata Pdt. Aan Susanto kematian itu jangan diukur dengan usia seseorang yang memenuhi syarat-syarat tetapi kesadaran iman pribadi seseorang dengan Tuhan, maka panggilan seseorang itu merupakan kehendak Tuhan, keimanan semua seseorang harus bisa menyadari soal hal ini.
Alm. Wartono adalah seorang pendeta muda yang lahir di Sragen Jawa Tengah, April 1970. Almarhum Wartono dalam riwayatnya sangat dibanggakan soal setia dalam pelayananya tak pernah mengenal lelah bekerja diladangnya Tuhan, dalam iklim yang model bagaimanapun, almarhum tetap setia untuk melakukan aktifitas dititik pelayanannya. Selain itu, almarhum pernah menduduki sekolah pelayanan dan beliau dikenal dalam gereja sebagai seorang Hamba Tuhan yang luar biasa artinya sangat berapi-api untuk memproklamikan nama Tuhan. Jemaat GBI Karang Mulia bersama umat beragama yang ikut melayat awalnya dari GBI Karang Mulia, jenazah dikeluarkan dari dalam gereja oleh para jemaat dan diusung menuju mobil jenazah bersama kendaraan roda dua maupun roda empat yang mengikuti Jalan Ujung Pandang menuju pertigaan Jalan Manado belok kanan menuju Jalan Jakarta sampai diperempatan Jalan Kusuma Bangsa menuju ke kuburan umum Marga Layu, di tempat tersebut jenazah dikebumikan.
Awal upacara penguburan dibuka dengan doa setelah itu penghamburan bunga dan peletakkan karangan bunga pertama, secara berturut-turut dari Gembala Gereja GBI Karang Mulia Pdt. Eli Gunto, S.Th. Ma dari WBI ada yang diwakili dari WBI peletakan karangan bunga serta mewakili dari keluarga Wartono saudara, juga tak ketinggalan dari yayasan pesat diwakili Tapenson Pardede, S.Th. GBI Karang Mulia bersama umat toleran setelah mengikuti upacara pemakaman penuh penghormatan dan turut berdua cita kepada Pdt. Pemb almarhum Wartono, Khotbah dari Pdt. Aan Susanto yang isinya dari Kitab Perjanjian Baru Kitab Wahyu Pasal 14 Ayat 13 ayat ini menggambarkan kisah Pemb (Alm) Wartono dipanggil Tuhan ketempat Pperistirahatannya setelah jerih payahnya untuk melayani Tuhan.
Oleh sebab itu, Pdt.Wartono berhak menerima mahkota kehidupan di sorga sedangkan pembawa acara Pdt. Imanuel menjelaskan kepada jemaat bahwasannya manusia itu lahir tidak membawa apa-apa dan kembalipun pula dengan keadaan kosong diambil dari Kitab Nabi Ayub kisah ini menggambarkan bahwa didalam dunia ini tempat mengembara dan bukan sebagai tempat hak milik oleh sebab itu kita wajib menyadari bahwa kita manusia hanya hidup numpang pakai saja dan kesemuanya itu milik Tuhan Amin.(ist)
Bagikan artikel ini



