NABIRE - Tiga Koperasi Perkebunan Masyarakat Adat (KPMA) Suku Waoha, Sarakwari dan Koroba serta Suku Wate Asiaina saat ini sudah menghasilkan pendapatan untuk koperasi melalui plasma yang diberikan oleh Perkebunan Kelapa Sawit PT. Nabire Baru sebesar 15%. Dimana, proses pembayaran hasil plasma dilakukan dalam sekali per triwulan oleh pihak perusahaan, yang harganya disesuaikan dengan hasil panen atau berat tonase buah sawit yang dijual dari koperasi kepada pihak perusahaan kelapa sawit PT. Nabire Baru. Ketua Koperasi Perkebunan Masyarakat Adat (KPMA) Suku Waoha Yunus Monei kepada wartawan, Sabtu (13/7) bertempat di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Nabire Baru mengatakan, hasil perkebunan plasma yakni terhitung mulai panen buah kelapa sawit itu sejak bulan November 2018 sampai dengan bulan Juni 2019 saat ini. Namun, hasil panen buah sawit milik plasma masyarakat yang dikelola melalui KPMA ini, yang sudah terjual ke PT. Nabire Baru terhitung dua kali dengan hitungan per triwulan, dalam arti triwulan pertama terhitung dari bulan November hingga Januari, triwulan kedua Februari hingga April dan pola pembayaran plasma sesuai dengan tonase atau TBS. “Realisasi pembayaran sesuai dengan kesepakan, yakni lima belas persen kepada koperasi itu sudah dibayarkan sesuai dengan hasil buah sawit yang sudah dijual kepada PT. Nabire Baru. Dan semua masyarakat tahu dan anggota koperasi juga tahu berapa hasil yang didapat dari plasma tersebut, jadi semua hal yang terkait dengan pembayaran plasma kepada mayarakat melalui koperasi ini berjalan baik dan lancar,” ungkapnya. Dikatakan, proses pembayaran plasma ini juga dilakukan secara transparan dan jelas, tidak ada yang ditutup-tutupi. Saat ini KPMA Waoha berada dalam tahapan proses plasma triwulan ketiga, yang nantinya akan dibayar pada bulan Juli sehingga masih dalam tahap proses sambil menunggu harga TBS yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Dalam arti, pihak perusahaan juga sangat memperhatikan sisi harga yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat, dengan nilai beli yang lebih baik.Lanjutnya, KPMA Wahoa memiliki areal plasma yang berjumlah 45 anggota koperasi. Harga buah sawit disesuaikan dengan usia tanam, jadi untuk triwulan pertama dan kedua ini tentunya masih awal sehingga harganya tidak begitu besar pendapatan yang didapat oleh KPMA Wahoa, tetapi dengan berjalannya waktu semakin lama usia tanam semakin bagus hasil buah sawit yang dihasilkan dan semakin tinggi harganya. “Kita sementara diposisi 48 bulan usia tanam, sehingga harganya masih dibawah dan itupun juga disesuaikan dengan jumlah tonase yang dijual kepada PT. Nabire Baru. Dan uang dari hasil plasma itu untuk KPMA Wahoa yang sudah diterima koperasi dibagi rata ke semua angota koperasi, karena usia tanam kita masih sangat kecil, tetapi kedepan tentunya hasil dari plasma ini akan juga digunakan dalam menunjang program-program koperasi yang berpihak kepada anggota koperasi,” tuturnya. Dirinya berharap, sebagai Ketua KPMA Wahoa kepada seluruh warga masyarakat Suku Wahoa dan juga anggota koperasi untuk tetap berhati besar dan percaya bahwa apa yang kita kerjakan pasti akan membuahkan hasil. Pertama mungkin sulit, tetapi ketika kita mau bekerja dengan hati yang tulus pasti akan membuahkan hasil yang baik. Dan dampak daripada sawit sangat luar biasa prospeknya dan memberikan kesejahteraan yang luar biasa kepada masyarakat.   Sementara itu, Ketua KPMA Sarakwari dan Koroba Alberth Nanaor mengatakan hal yang senada. Hadirnya PT. Nabire Baru akhirnya bisa membawa perubahan yang luar biasa bagi masyarakat yang ada di Wami maupun Sima. Sudah sembilan tahun sejak dirinya masuk dalam perusahan perkebunan sawit PT. Nabire Baru hingga saat ini jumlah anggota KPMA Sarakwari dan Koroba berjumlah 101 anggota koperasi.“Realisasi pendapatan 15 persen dari hasil plasma semuanya dimasukkan dalam kas koperasi dan semua hasil tersebut akan dimasukan dalam program-program kerja koperasi kedepan. Dan kita juga belajar dalam sistim pengelolaan keuangan koperasi, sehingga mempunyai manfaat besar bagi anggota koperasi kedepan,” ujarnya. Alberth juga mengatakan, kedepannya KPMA Sarakwai dan Koroba akan membuat infrastruktur dan juga fasilitas bagi koperasi, sehingga dalam pelayanan koperasi kepada masyarakat dan juga anggota koperasi dapat berjalan dengan baik. Dan rencana program kedepannya juga terkait dengan aspirasi maupun usulan dari masyarakat terkait perkebunan sawit harus melalui koperasi, sehingga semua anggota koperasi dan juga masyarakat sama-sama memajukan koperasi dan juga perkebunan sawit. Karena, kehadiran perusahaan sawit PT. Nabire Baru memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat. “Saya berharap, generasi-generasi penerus, generasi-generasi pembangunan kampung ini datang bergabung dengan kita supaya mulai belajar, jangan abaikan waktu yang ada. Jangan ada lagi persepsi-persepsi yang negatif lagi terhadap perusahan, kita lihat sekarang kita sudah mulai menikmati hasilnya melalui plasma ini, dan ini awal dari kesuksesan kita kedepan, ini bukti nyata bukan janji-janji palsu, kita rasakan sekarang hasilnya,”tambahnya.Selain KPMA Wahoa dan KPMA Sarakwari dan Koroba, KPMA Wate Asiaina juga sudah mulai merasakan dampak dari hasil plasma yang diberikan oleh perusahaan. Ketua KPMA Wate Asiaina, Nikanor Kaiway kepada wartawan mengatakan, selaku pemilik hak ulayat dan juga ketua koperasi memberikan apresiasi kepada PT. Nabire Baru karena telah merubah hutan baru yang menghasilkan dan produktif.Katanya, selama memimpin KPMA Wate Aisiana selama lima tahun terakhir, dengan mempunyai anggota 161 Kepala Keluarga (KK). Dimana, dari hasil plasma triwulan pertama yang diterima oleh KPMA Wate Aisiana, SHU yang diterima dimasukkan dalam kas koperasi dan dipergunakan sebagai biaya kredit Dump Truck milik koperasi yang berjumlah 3 unit. “Jadi dump truck ini sekarang kami dari koperasi sewakan kepada perusahaan, dan hasilnya nanti kami masukkan dalam kas koperasi dan untuk kesejahteraan anggota koperasi. Sedangkan, untuk hasil Plasma triwulan kedua sebesar lima puluh tiga juta dan hasil rapat bersama masyarakat hasil dari plasma triwulan kedua di bagi habis untuk semua anggota koperasi dan tujuh marga yang ada dalam Wate Aisiana. Dan tahap triwulan ketiga kita tinggal tunggu proses dan harga tonase dari pemerintah,” katanya. “Ini bukan akhir dari pada sesuatu, tetapi ini awal dari pada sesuatu, sehingga saya mohon kepada perusahan mulai dari tingkat pimpinan hingga bawahan untuk bisa membantu kami masyarakat dalam memajukan perekonomian masyarakat di masing-masing wilayah adat. Dan mungkin, areal yang belum dibuka oleh PT. Nabire Baru kalau  bisa segera dibuka, sehingga hasil yang didapat oleh masyarakat juga semakin banyak. Kita harus melihat atau memandang perusahaan ini dengan tidak sebelah mata, karena hadirnya PT. Nabire Baru sangat membawa dampak yang luar biasa ditengah-tengah masyarakat dalam hal segi perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (cad)