Penimbunan dan tanggul pantai di Pantai Nabire atau penimbunan laut di Teluk Yos Sudarso cepat dan agak lebar karena menggunakan alat berat. Beda dengan gaya penangkalan abrasi pantai yang dilakukan, Jefri Raweyai dari Samabusa Kampung.Pantai Nabire bisa ditata dengan tanggul di depan setelah menahan gempuran ombak dari Teluk Sarera ditangkis dengan batangan beta ukuran jumbo. Sementara di Jayapura, sebagian laut diantara Mako Polda Papua dan Kantor Gubernur Dok II ditimbun dengan tanah oleh kontraktor sehingga kini berdirilah kawasan bisnis Jayapura Pasific.Namanya saja dengan teknologi, apa yang tidak mungkin bisa disiasati. Beda dengan kreasi karya tangkal abrasi yang dikerjakan warga Samabusa, Jefri Raweyai. Hanya berdasarkan pengalaman dan belajar dari gejala alam, lulusan SMA di Nabire beberapa tahun silam ini bisa menimbun laut dan menambah dataran ke arah laut.Hanya dengan belajar dari meti siang dan meti malam, Raweyai yang baru menjabat sebagai Kepala Kampung Samabusa ini, berhasil menimbun laut dari depan rumahnya sepanjang 15 meter dengan bentangan lebar 40 meter dan sementara ini sedang menanti penambahan lahan ke arah laut selama meti malam. Raweyai menambahkan dataran seluas 40x15 meter hanya dalam 3 tahun.Raweyai mengisahkan, ketika tiba musim meti siang (pertengahan Februari hingga Juli/pertengahan Agustus) kesempatan baginya untuk membuat pagar dengan memanfaatkan kayu dan bahan lainnya dari sekitar lingkungan. “Pakai bahan sederhana yang ada di sekitar sini ditambah dengan buangan sampah dari laut seperti batang kayu yang hanyut,” urainya.Ketika musim meti malam, Raweyai menambahkan, ombak keras dari laut akan memuntahkan pasir. Hasil muntahan berupa pasir akan masuk dalam agar, yang keluar hanya air. Oleh karena itu, makin lama timbunan pasir di dalam pagar akan semakin banyak sehingga akan terbentuk lahan baru. “Tanaman ini baru ditanam, kalau sebelumnya hanya pohon-pohon ini yang tersisa pinggir. Pohon-pohon ini baru tumbuh setelah kami pagar dan dapat lahan ini,” tuturnya bangga sambil memperlihatkan pepohonan dan tanaman di atas lahan ‘baru’. Pola tangkal abrasi ini bisa ditularkan kepada warga lain namun, terpulang kepada tertarik atau tidak. Disamping itu, beberapa lahan di depan pantai dimiliki oleh warga yang tidak tinggal di Kampung Samabusa. Hanya dengan kemauan besar, pola tangkal abrasi ala Raweyai ini bisa dipraktekan oleh orang lain dan di tempat lain. Lanjutkan, Day. (ans)