Selama 21 Tahun Bangun Gedung Gereja ‘Yahwe’ Masipawa
NABIRE - Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) ‘Yahwe’ Kampung Masipawa Distrik Napan benar-benar tampak bersyukur kepada Tuhan. Karena, pembangunan gedung gereja yang diresmikan dan ditabiskan sudah pasti melalui suatu perjuangan yang cukup panjang. Sebagai ungkapan rasa syuk
Bagikan
NABIRE - Jemaat Gereja Kristen Injili (GKI) ‘Yahwe’ Kampung Masipawa Distrik Napan benar-benar tampak bersyukur kepada Tuhan. Karena, pembangunan gedung gereja yang diresmikan dan ditabiskan sudah pasti melalui suatu perjuangan yang cukup panjang. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, Jemaat GKI Yahwe memuji Tuhan bersama hadirin dan undangan, juga menyanyikan vokal group maupun paduan suara. Selain itu, sebagai bentuk ucapan syukur atas selesainya pembangunan warga jemaat Yahwe Maspawa juga menyediakan makan dan minuman bagi tamu, hadirin dan undangan. Peresmian dan pentabisan gedung Gereja Yahwe adalah bukti pergumulan jemaat Tuhan.
“Namun, dibalik pergumulan tersebut, mendatangkan Anugerah Tuhan yang berkelimpahan bagi generasi penerus. Karena, kenyataan telah mencatat bahwa sudah banyak jiwa yang meninggal dunia ketika membangun rumah Tuhan selama kurung waktu 21 Tahun. Namun demikian, kini kami bersyukur kepada Tuhan karena kami bisa melihat kebesaran Allah. Pasalnya, sejak tanggal 01 Desember 1936 matahari kebenaran telah menyinari kawasan Teluk Imbenumi melalui petugas gereja Leonard Wanaha,” Demikian seperti diungkapkan Ketua Jemaat Yahwe Masipawa, Pdt. Yakob Nanthi.Selain itu Pdt. Yacob menjelaskan, nama Kampung Masipawa tidak akan diganti sampai dengan Kristus datang pada kali kedua. Pasalnya, kampung Masipawa awal mulanya memiliki nama Rering dengan bahasa setempat artinya berkelimpahan. Nama Kampung Rering ini muncul setelah leluhur melihat serta mengamati segala panorama yang begitu indah dikala itu di Teluk Imbenumi, teluk yang indah teduh dan menarik hati dengan menyimpan berbagai hasil kekayaan alam juga terlihat adanya sejumlah mata air di berbagai titik yang akan dinikmati bersama sejak masa lampau sampai saat ini, maka oleh leluhur memberi nama Rering. “Namun kini nama Kampung Rering sudah diganti dengan Masipawa. Karena, tim survey dari pemerintahan Belanda menjalankan tugas di seluruh Tanah Papua dengan tujuan utama mengecek hasil tambang yang ada diperut bumi Papua ketika itu, setelah daerah ini diamati oleh Betsir Debood ternyata kampung ini menyimpan harta kekayaan yang luar biasa sehingga nama kampung Rering telah diganti dengan Masipawa,” ungkap Pdt. Yakob. (hendrik anouw)
Bagikan artikel ini



