Rakersis dan Rakerpel, Sarana Evaluasi dan Susun Program
NABIRE- Dalam Rakerdal (Rapat Kerja Sinodal), di Mimika tahun 2014 Klasis GPI Papua telah berlangsung dalam tema “bertolong-tolonglah menanggung beban”.Dalam Sinodal telah digariskan bersama program kerja tahun 2015-2018, program itu nantinya diimplementasikan pada sidang k
Bagikan
NABIRE- Dalam Rakerdal (Rapat Kerja Sinodal), di Mimika tahun 2014 Klasis GPI Papua telah berlangsung dalam tema “bertolong-tolonglah menanggung beban”.Dalam Sinodal telah digariskan bersama program kerja tahun 2015-2018, program itu nantinya diimplementasikan pada sidang klaisis khususnya pada Rakersis dan Rakerpel GPI Papua di Nabire.
Rakersis ini juga akan mengevakuasi program kerja dan anggaran tahun2014 dan menyusun program kerja dan anggaran tahun 2015.Program-program yang telah di tetapkan meminta tanggungjawab bersama seusai dengan kadar masing-masing, artinya pencapaiyan hasil maksimal program yang ada menuntut untuk turut didalamnya.Dengan demikian apa bila ada kekurangan yang terlihat mestinya menjadi bahan refleksi bersama sejauh mana peran didalamnya telah dinyatakan , sehingga tidak arif dan tidak mencerminkan keimanan yang utuh bila melihat kekurangan dan kelemahan karya pelayanan dan mempersalahan orang lain begitu saja pada sisi yang lain sesungguhnya turut pula menciptakan kekurangan dan kelemahan itu dengan tidak berperan secara semestinya.Demikian sambutan tertulis Ketua Badan Pekerja Sinode GPI Papua, Pdt.W.Rumainum,S.Th, yang dibacakan Sekretaris Badan Pekerja Sinode GPI Papua, Pdt.J.Kallu,M.Th, dalam acara Rakersis dan Rakerpel GPI Papua di GPI Papua Jalan 3 Gereja Nabire.Diungkapkannya, Rakersis kali ini perlu pula di ingat bersama akan sub tema Rakerdal kemarin, yakni ‘’merawat persudaraan mewujudkan keesaan di tengah kemajemukan, dengan‘’sub tema ini, mengingatkan tentang pentingnya persaudaraan sebagai tubuh Kristus dan warga gereja yang berinteriaksi dalam kemajemukan dakam berbagai aspek.Rakersis kali ini di harapkan akan berlangsung dalam semangat tema sub tema ini dalm menalar segala macam persoalan pelayanan gerja ke depan dalam lingkup klasis masin-masing namun tetap dalam kesatuan pandang.“Tujuan sinodal hal ini di pandang perlu mengingat bahwa tidak dapat di pungkiri dalam perjalanan bergereja kita akhir-akhir ini begitu banyak persoalan pelayanaan dan kepejabatan gereja yang begitu menyita perhatian dan kadang menyurutkan semangat hal ini setelah di cermati boleh terjadi karena terjadinya pergeseran pandang nilai dan semangat sebagai akibat tumbuhnya pandangan dan pikiran yang lebih menedepankan semangat klasikal dan jemaat sentaris artinya terjadi kecenderungan masing-masing jemaat dan atau klasis memeikirkan bagaimana pelayaan jemaat dan klasis masing-masing berjalan tanpa melihat bahwa perkermbangan pelayanan di jemaat dan klasis yang lain berkembang beriringan seturut dengan perkembangan klasis atau jemaat kita di sini sikap keterbukaan dan rela menerima pergeseran pelayan atau pejabat harus di miliki sebab tumbuh kembangnya pelayanan dalam klasis dan jemaat adalah karena tuhan dan bukan karena pelayan atau pendeta sepeti firman tuhan ‘’aku menanam apolos menyiram tetapi Allah yang membe pertumbuhan ‘’(1kor 3:6) dalam terang firman tuhan ini jelas bahwa peran manusia tetap ada teapi peran itu baru akan berati karena Allah yang menentukan segalanya,” tuturnya.Menurutnya, tema ’’bertolong-tolonglah menanggung bebanmu ‘’ menjadi cahaya yang begitu menyejukaan, ditambah dengan sub tema ‘’merawat persaudaraan mewujudkan ke esaan di tengah kemajemukan ‘’mengapa saya mengatakan demikian ?, karena ditengah dinamika yang terus bergerak dan dari segala informasi yang bisa didengar dan dilihat kemanusiaan begitu tergerus sebagai sesama manusia banyak orang yang cenderung berkembang ke arah dan berorientasi pada diri sendiri.“Sebagi geraja, hal ini serupa cenderung dengan pikiran yang hanya fokus pada klasis dan jemaat sendiri pikiran dan perkembangan demikian memperlihatkan pikiran yang tidak seusai dengan pikiran gerja sebagai persekutuan tubuh Kristus sebagai satu tubuh setiap anggota tubuh kecil atau besar kuat atau lemah elok atau tidak semuanya di tempatkan untuk keindahan tubuh itu secara menyeluruh inilah yang mesti kita lihat bersama dalam pesidangan ini kita tentu masih ingat dan merasakan dalam rapat kerja sinodal yang telah berlangsng pada bulan Nivember 2014 lalu di timika .laporan dan gambaran yang di sampaikan oleh BPS dan badan-badan gerja lainya mempelihatkan betapa di beberapa jemaat dan klasis masih kita jumpai kelemahan yang begitu banyak dan memprihatinkan kita bersama seolah semagat tema ‘’bertolong-tolonglah menanggung bebanmu ‘’ belum menjadi semangat penata layanan kita sebab itu saya harap rakesisini harus benar-benar berupaya menjadi lokomotif yang siap menggerakan gerbong jemaat-jemaat untuk bertolong-tolongan dalam pengertian yang luas,” terangnya.Diungkapkannya, keadaan di luar gereja juga tidakkalh memprihatinkan semua kenyataan yang ada di luar menuntut gereja mengambil sikap dan peran aktif dalm upaya menyuarakan suara kenabiannya dan fungsi filter peran sosialnya karena itu upaya-upaya sekecil apapun untuk memberi dampak positif bagi kehidupan bersamadi luar sana atau di dalam masyarakat harus di ambil salah satu yang kini dan telah berjalan diharapkan dapat di lakukan oleh semua jemaat adalah program relawan pendidik dan juga kesehatan.Menurutnya, program itu tidak di maksud mengambil tugasdan tanggung jawab para guru dan tenaga medis di jemaat-jemaat atau kampung-kampung, tetapi itu adalah upaya GPI Papua memaksimalkan sumber daya pelayanan yang ada untuk itu maka demi lahirnya relawan-relawan. “Perlu pembekalan atau pemberian materi dan orientasi kepada para pelayan di jemaat-jemaat pada basis terdepan di mana gereja bersentuhan langsung dengan masalah-masalah di maksud,” ujarnya.Lanjutnya, dalam bidang kesehatan terutama berkaitan dengan HIV/AIDS dalam gereja masih saja terjadi stigmatisasi saudara-saudara yang mederita HIV/AIDS.Tidak sedikit adalah warga gereja dalam hal ini geraja mesti dapat menjadi komunitas penyembuh dalam menghadapi pandemik AIDS serta dampak-dampaknya.Ssebab itu GPI Papua perlu kebijakan dan strategi mengenai HIV/AIDS sebagai landasan dan panduan bagi warga gereja , alam hal ini GPI Papua dapat menagcu pada strategi PGI dalam upaya sebagaimana dimaksud di atas.Gereja berharap pemerintah dapat bersama-sama melakukan reposisi dalam kemitraan yang strategis untuk bersama-sama mengantarkan masyarakat kesejahteraan sebagai wujud syaloom Allah.Melalui Rakersis itu, dirinya, berharap, melakuakan evaluasi dan repleksi yang dalam agar dapat memberikan kontribusi positif dalam memikirkan dan merumuskan program yang secara nyata dapat dilakukan.Dirinya juga berharap Rakersis itu melihat dan mencermati segala sumber daya yang ada agar semuanya dapat di kelolala dan mengelola program yang akan di rancangkan. (iing esa)
Bagikan artikel ini



