Paula Pakage dengan Kantong Sendiri Perangi HIV
NABIRE – Perjuangan seorang Paula S. Pakage, SE dalam memerangi penyakit mematikan HIV di Kabupaten Nabire, perlu mendapat acungan jempol. Dengan bermodalkan dari kantong sendiri, konselor yang sudah berpengalaman dalam bidangnya, tak putus asa untuk memerangi penyebaran HI
Bagikan
NABIRE – Perjuangan seorang Paula S. Pakage, SE dalam memerangi penyakit mematikan HIV di Kabupaten Nabire, perlu mendapat acungan jempol. Dengan bermodalkan dari kantong sendiri, konselor yang sudah berpengalaman dalam bidangnya, tak putus asa untuk memerangi penyebaran HIV di daerah ini. Tempat-tempat berkumpulnya warga menjadi sasarannya untuk mensosialisasikan soal HIV.
Paula S. Pakage, SE adalah Ketua Korlap Penyuluh, Penanganan dan Penanggulangan HIV (P3HIV) yang juga konselor yang bernaung dibawah organisasi muda mudi peduli perempuan dan anak pegunungan tengah Papua. Dirinya sudah berulang kali menggelar sosialisasi HIV yang sasarannya adalah warga dan juga anak-anak muda. Seperti yang digelar Sabtu (4/2) lalu, dirinya menggelar sosialisasi HIV yang ketujuh bertempat di SDN I Inpres Sanoba 1. Peserta yang mengikuti kegiatan ini cukup banyak, dan kehadiran Ny. Yufinia Mote, Kepala Kantor Pemberdayaan Perempuan dan KB Nabire ini, menjadi motivasi tersendiri.“Kita lihat kondisi penyebaran HIV sangat memprihatinkan, tapi penyuluhan dan pengobatan tidak sampai pada titik sasaran dimana anak muda berada,” ujar Paula saat bertandang ke redaksi, Selasa (7/2) kemarin. Paula menilai, selama ini sosialisasi yang dilakukan terlalu formal seperti misalnya dilakukan di tempat-tempat mewah seperti guest house. Beda konsep yang dirinya jalankan, dengan mendatangi langsung anak-anak muda mulai dari para-para pinang. Sekarang anggota sudah banyak dan tetap akan memperluas lagi keanggotannya.Berbicara soal kepedulian terhadap HIV, kata Paula, anak-anak yang diberi julukan anak-anak aibon maupun anak-anak nakal, sebenarnya mempunyai kepedulian dengan HIV. Hal ini terbukti saat sosialisasi, mereka ingin tahu banyak seputar HIV dengan penyampaian banyak pertanyaan. Mereka tidak tahu dan ada keinginan untuk tahu seputar HIV tersebut.Dalam kegiatan sosialnya ini, kata Paula, jgua memiliki laboratorium mini untuk melayani pengambilan darah di tempat untuk dites HIV. Dengan pendekatan yang dirinya lakukan, secara perlahan namun pasti mereka mau untuk melakukan pemeriksaan darah dengan suka rela. “Saya jadi yakin dengan pendekatan ini, kita datangi ke tempat-tempat mereka berada akan lebih optimal lagi. Bukan hanya dengan membagikan bahan sosialisasi seperti stiker, pamflet, spanduk dan yang sejenisnya,” kata Paula.Lebih lanjut dikatakan, untuk melaksanakan program ini tentu perlu dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak lainnya. “Kegiatan sosialisasi kemarin saya mengundang orang-orang yang saya harap memiliki kepedulian terhadap persoalan ini. Namun pada kenyataannya masih sedikit orang yang mau peduli untuk membantu program ini, padahal di Nabire HIV tergolong sangat tinggi,” ujarnya. (ros)
Bagikan artikel ini



