Pangdam Sampaikan Keprihatian Atas Sejumlah Persoalan Bangsa
NABIRE - Panglima Kodam XVII/Cenderwasih, Mayjen TNI Fransen G. Siahaan, menyampaikan keprihatinannya atas sejumlah persoalan yang terjadi di Indonesia dan Papua. Salah satunya adalah kondisi di lokasi pertambangan emas rakyat. Hal demikian diungkapkan Pangdam XVII/Ce
Bagikan
NABIRE - Panglima Kodam XVII/Cenderwasih, Mayjen TNI Fransen G. Siahaan, menyampaikan keprihatinannya atas sejumlah persoalan yang terjadi di Indonesia dan Papua. Salah satunya adalah kondisi di lokasi pertambangan emas rakyat.
Hal demikian diungkapkan Pangdam XVII/Cenderwasih, dalam sambtannya di acara tatap muka dengan Muspida dan tokoh-tokoh di Guest House, Selasa (28/1).
Terangnya, di area pertambangan emas itu dihuni oleh ribuan pendulang, begitu banyak masyarakat mencari emas sementara tidak nampak fasilitas utamanya kesehatan dan pendidikan.
Keluhan masyarakat dihadapannya, membuat Pangdam berjanji untuk mengirim dokter dan membangun pos kesehatan selanjutnya persoalan itu akan dilaporkan kepada Gubernur.
4 bulan menjabat Pangdam XVII/Cenderawasih menggatikan Pangdam XVII. Mayjen TNI Christian Zebua.
Pangdam yang dibesarkan di Kostrad itu, mantan Dandim Timika tahun 2000-2001, 2008-2010 Komandan Korem Sorong, mengaku senang bertatap muka dengan Muspida dan tokoh-tokoh masyarakat Kabupaten Nabire. Pangdam melihat melalui teori Maltus bahwa pendduk dunia tahun 2008 mencapai 8 milyard jiwa.
Menurt teori itu pertambahan penduduk seperti deret ukur yang meledak, sedangkan pertambah infrastruktur dan pangan dan energy deret tambah sehingga ada titik kritis. Tahun 2008 saja sudah kritis pangan, kritis energy. 2008-2015, penduduk dunia mencapai 11 milyar. Dari pertambahan peduduk dunia kita harus terbuka apa yang terjadi. Semua perang, kecuali di Indonesia. Perang dalam rangka merebut energy, dalam rangka merebut sumber daya alam.
Perang itu terjadi di utara katulistiwa. Yang terakhir kita lihat perang di Ukraina yang menyeret kepentingan negara kuat (Amerika dan Rusia). Di timur Tengah berperang. Dari ketidakpuasan munculah ISIS.
Di Indonesia telah muncul sejumlah permasalahan seperti narkoba, seks bebas, minuman keras dan itu adalah upaya-upaya untuk melemahkan Indonesia, dimana tujuannya untuk menghilangkan generasi calon-calon pemimpin Indonesia kedepan.
Bahwa narkoba, seks bebas dan miras itu dalam rangka pembodohan, akhirnya kita hilang. Satu saja generasi hilang maka Indonesia menjadi lemah. Kondisi bangsa Indonesia, perkelahian antar pelajar, bahkan mahasiswa sampai membakar kampusnya.
Padahal orang sakit jiwa saja belum pernah membakar rumah sakit jiwa, tetapi mahasiswa sekarang membakar tempatnya belajar. Apakah itu karena faktor ekonomi atau pembelajaran yang tidak baik dari keluarga ataukah memang karakter yang dilatih/dibina oleh orangtua. Itu mungkin salah satu faktor, tetapi itu merupakan design kelompok-kelompok tertentu agar Indonesia lemah.
“Saya selalau katakana kepada mahasiswa dan rektor, agar mari kita melek, mari kita lihat, bahwa itu adalah permasalahan bangsa ini,” ujarnya.
Dibutuhkan konsep/strategi yakni komponen bangsa harus kuat mulai dari pusat hingga ke bawah. Bagiamana, yakni pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak harus betul-betul membumi.
Menteri hanya membuat kebijakan dan merumuskan peratran-peraturan Presiden/Kepres atau UU, tetapi semua peraturan-peraturan itu harus bisa diimplementasikan.
Pangdam merasa prihatin, Papua yang begitu kaya, sumber daya alamnya begitu melimpah, tetapi dibalik kekayaan itu sementara anak-anak belum masih terangkat.
Pangdam bercerita pengalaman saat meninjau lokasi pertambangan belum ada infrastruktur kesehatan dan pendidikannya.
“Ini persoalan bangsa ini,” ujarnya.
“Saya berharap ini bisa dilihat dan didengar oleh Pemerintah sehinga mari kita mengurusnya. Saya akan kirim okter dan saya akan bangun fasilitas kesehatan disana dan saya akan dilaporkan kepada Gubernur,” tuturnya.
Pangdam meminta agar pemerintah pusat membuat payung hukum agar pemerintah-pemerintah kabupaten taat dengan itu, karena UU, Kepres ada tetapi belum tentu dilaksanakan.
Pangdam berharap persoalan Papua dapat diserap dengan baik dan dibuatkan payung hukum sekaligus dapat membumi dan dimplementasikan. (iing elsa)
Bagikan artikel ini



