NABIRE - Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) secara administratif berada pada 2 wilayah pemerintahan yakni pemerintah Kabupaten Nabire Propinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama Propinsi Papua Barat dengan luas kawasan 1.453.500 Ha yang mencakup daratan pulau, pesisir pantai dan terumbu karang serta keunikan kawasan atas keanekaragaman hayati laut dan daratan pulau yang cukup tinggi. Secara keseluruhan bahwa dalam kawasan TNTC ditemukan 460 spesies karang keras. Antara lain 30 jenis karang baru dan 11 jenis karang yang belum teridentifikasi dan juga sudah teridentifikasi sebanyak 836 spesies ikan dari 80 family dan diprediksikan masih terdapat 1.122 spesies ikan yang belum teridentifikasi, selain itu juga ada hewan reptil berupa Penyu, Biawak, Buaya Air Tawar, Kadal dan Ular dan juga 6 jenis mollusca, hewan mamalia dan Aves/burung.Khusus pada wilayah pemerintahan Kabupaten Nabire, TNTC seluas 380.930 Ha setara dengan 26 % dari luas Taman Nasional Teluk Cenderawasih secara keseluruhan, terletak di wilayah Pemerintahan Distrik Yaur dan Distrik Teluk Umar yang mencakup Kampung Sima, Akudiomi, Yaur, Napan Yaur, Bawei, Yeretuar dan Kampung Goni serta memiliki sejumlah pulau yang tersebar mulai dari Teluk Hamuku sampai pada Tanjung Ayomi.demikian diungkapkan oleh Aswadi Hamid, pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan pada Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nabire, Balai Besar TNTC.Dikatakan Aswadi Hamid, TNTC tidak saja memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga memiliki Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) yang sangat menakjubkan berupa keunikan, keindahan panorama alam serta nilai historis yang bernilai wisata dan sangat potensial sekali bila dikelola untuk pengembangan industri pariwisata.“Di dalam kawasan sekitar Pulau Nuburi, dapat dilakukan aktifitas wisata bahari berupa snorkeling, diving serta wisata pantai, sementara di Pulau Pepaya, berdasarkan sejarahnya Pulau Pepaya merupakan habitat kelelawar. Karena sering terjadi perburuan, jumlah kelelawar yang ada semakin menurun dan dimungkinkan telah bermigrasi ke pulau lain yang lebih aman. Wisatawan dapat melakukan aktifitas berenang, snorkeling, diving, pengamatan burung dan vegetasi hutan daratan pulau, “jelas Aswadi Hamid.Ungkapnya, sementara itu, di Pulau Nutabari yang terbentuk dari batu cadas yang sangat tajam dan dipenuhi lubang/liang sebagai tempat persembunyian aneka jenis kadal, kepiting dan hewan lainnya. Adapun kegiatan wisata yang dapat dilakukan di Pulau Nutabari diantaranya wisata pantai, pengamatan burung dan satwa lainnya. Demikian halnya di Pulau Kumbur yang ditumbuhi cemara pantai dan memiliki hamparan pasir, dapat dilakukan pengamatan burung, wisata pantai, snorkeling dan diving laut dalam.Terang Aswadi, disamping itu, di Pulau Anggromeos dapat dilakukan aktifitas berenang, snorkeling, diving, pengamatan burung, flora fauna dan vegetasi hutan daratan pulau. Kemudian di Tanjung Mangguar yang merupakan tanjung di pulau induk Papua, terdapat beberapa buah pulau kecil yang terbentuk dari batuan vulkanik dan menarik untuk melakukan pengamatan burung, penyelaman laut dalam dengan gua-gua bawah air di kedalaman 40 meter. Lain halnya di Tanjung Kwatisore, disekitar perairan di depan Tanjung Kwatisore, wisatawan dapat menikmati atraksi ikan terbesar di dunia yaitu Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus) dan di Pulau Nurage dan Pulau Manimaje dapat dilakukan wisata diving/snorkeling dengan pengamatan keanekaragaman hayati dan panorama terumbu karangnya.Menurutnya,  Kawasan Taman Nasional Teluk Cenderawasih ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi karena memiliki keanekaragaman hayati yang perlu dilindungi dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk menunjang pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat sehingga pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, Lembaga Masyarakat Adat, Lembaga Keagamaan, Perguruan Tinggi, Swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Masyarakat Umum untuk berpartisipasi dalam “Pengelolaan Sumber Daya Alam secara berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat local.Untuk mengintegrasikan Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih perlu adanya kolaborasi antar semua pihak yang berasal dari perorangan maupun lembaga yang memiliki minat, kepedulian, komitmen dan dedikasi yang tinggi terhadap Pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang berdasar pada Peraturan Menteri Kehutanan nomor : P.19/Menhut-II/2004 tanggal 19 oktober 2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, “ tuturnya.Aswadi Hamid menambahkan bahwa adapun tujuan kolaborasi pengelolaan TNTC adalah terwujudnya persamaan visi, misi, dan langkah-langkah strategis dalam mendukung, memperkuat, dan meningkatkan, pengelolaan TNTC sesuai kondisi fisik, sosial, budaya, dan aspirasi setempat.Hal ini yang menjadikan embrio terbentuknya Tim Kerja Terpadu Pengelolaan TNTC Wilayah Nabire yang telah bekerja dan bergerak bersama sejak awal tahun 2013.Kolaborasi Pengelolaan merupakan suatu kebutuhan dalam rangka mengurangi atau menghilangkan konflik serta menampung berbagai aspirasi atau keinginan berbagai pihak untuk ikut berbagi peran, manfaat dan tanggung jawab dalam pengelolaan Taman Nasional Teluk Cenderawasih sehingga dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kolaboratif pengelolaan sangat ditentukan adanya komitmen, kesepakatan, kerja keras, bergerak bersama antar para pihak yang berkepentingan untuk mewujudkan kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat, “ pungkas Aswadi Hamid. (iing elsa)