Nato Gobay, Pr Tak Sekedar Pastor, Tapi Pastor Plus
*In MemoriamNABIRE - Pastor Nato Gobay, Pr telah tiada dengan membawa pergi segudang pengalaman pejuang kemanusiaan. Pastor ini cukup dikenal dan populer di Papua, Indonesia bahkan dunia. Dikenal bukan karena sekedar Pastor tetapi pria kelahiran Badauwo 67 tahun lalu ini ka
Bagikan
*In MemoriamNABIRE - Pastor Nato Gobay, Pr telah tiada dengan membawa pergi segudang pengalaman pejuang kemanusiaan. Pastor ini cukup dikenal dan populer di Papua, Indonesia bahkan dunia. Dikenal bukan karena sekedar Pastor tetapi pria kelahiran Badauwo 67 tahun lalu ini karena tampil lebih dari pastor yang pantas diberi apresiasi sebagai pastor plus.
Dikatakan akademisi, Petrus Tekege, SH, MH, Pastor Nato Gobay, Pr adalah pastor pembela masyarakat kecil, pembelah Hak Asasi manusia, pemerhati masalah-masalah sosial yang selalu tampil berbicara baik dalam gereja maupun diberbagai forum baik lokal di Papua, Nasional bahkan Internasional. Pastor Nato populer sebagai pembela Hak Asasi Manusia semenjak terjadinya pelanggaran HAM berat Timika, Mapunduma, Alama, Bela pada tahun 1994, 1995, 1996-1998 saat tuntutan masyarakat 7 suku atas royalti PT. Freeport dan pembebasan sandera.”Ketika itu almarhum sebagai Pastor Paroki Tiga Raja Timika tidak sanggup menerima tindakan oknum aparat TNI yang menangkap, menembak, mengusir dari tempat tinggal, membakar rumah warga. Terhadap pelanggaran HAM itu almarhum melaporkan kepada Uskup Jayapura Herman Moninghoff, Ofm dan ditindak lanjutnya kepada KOMNAS HAM untuk dibentuk KPP-HAM penyelidikan atas tindakan tersebut. Karena peran aktifnya maka sebagian pelakunya diproses hukum,” tuturnya.Dalam rangka memperjuangkan royali PT. Freeport kepada masyarakat 7 suku Papua yang berdomisili di Timika bersama Mama Yosepa Alomang, almarhum menggugat PT. Freeport ke Pengadilan Albitrase Internasional di Amerika Serikat. Hasilnya sangat menggembirakan, sehingga pastor ini menjadi bulan-bulanan di Indonesia pada tahun 1996-1997.Dikatakan Petrus Tekege, dia juga cukup geliat menjadi pembicara untuk mensosialisasikan pentinya pengakuan harkat dan martabat manusia orang asli Papua di berbagai negara dan forum di dalam negeri dan luar negeri baik lewat gereja maupun organisasi internasional. Disisi lain, alm. Pator Nato Gobai, Pr. Terlihat aktif membelah masyarakat yang ditembak, dianiaya, ditangkap pada saat masyarakat mengibarkan bendera Bintang Kejora di Biak pada tahun 1998 (pada saat itu bertugas sebagai Pastor Paroki di Biak ), Mubes pada tahun 1999, kongres Papua tahun 2000, pengibaran bendera di Nabire sekalipun tidak ikut tetapi mengambil peran tingkatkan koordinasi dengan aparat keamanan agar tidak terjadi penembakan dan pembunuhan.Selain peran besarnya dalam memperjuangkan Hak Asasi manusia di tanah Papua, yang sebagai Vikaris Jendral Keuskupan Timika (wakil uskup) ini banyak waktu dihabiskannya dengan membina iman generasi muda melalui diskusi, pelatihan, rekoleksi. Agar kaum mudah berkembang seirama dengan iman tanpa tenggelam dalam dunia hiburan, dunia gegelapan yang menindas, menjajah iman kaum mudah. Dengan berbagai pengaruh seperti maraknya keterlibatan orang mudah dalam miras, pergaulan bebas yang mengakibatkan hidup tidak terarah, penyakit HIV-AIDS yang menurut pastor Nato,Pr. sebagai bentuk penindasan, pembodohan, pembasmian masa depan orang mudah Papua yang cemerlang yang Tuhan menginginkan menjadi manusia–manusia yang bertanggungjawab terhadap dirinya, terhadap orang tua, terhadapa sanak saudara, masyarakat terlebih demi kemuliaan nama Tuhan.Pastor Nato Gobay, Pr. yang saat ini sebagai ketua Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik se Tanah Papua ini juga selalu menekankan agar ditingkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolah yang berada dibawah yayasannya.Selain kualitasnya alm.juga mendorong agar secara rutin dilakukan sosialisasi penyadaran Miras dan HIV-AIDS terhadap anak-anak untuk menekan meningkatnya konsumen miras di kalangan anak-anak mudah, agar tidak terjerumus dalam dunia kegelapan penyakit HIV-AIDS. Himbauan yang sama juga kepada umatnya di gereja, kombas/kring dan lingkungan. Lebih lanjut dikatakan Tekege, suatu firasat dan mungkin prediksi pastor Nato Gobay,Pr.(alm) yang biasa disampaikan dalam setiap diskusi dan rekoleksi denagn kaum mudah dan umumnya umat bahwa “pada suatu saat orang Papua akan habis” karena . Orang Papua mulai dari orang tua di rumah sudah tidak peduli anak itu aset yang harus dijaga yang diberikan oleh Tuhan, sementara orang tua sibuk dengan mabuk dan judi. Pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan oleh aparat keamanan yang tidak bertanggungjawab atas nilai-nilai kemanusiaan. Minuman miras yang kian meningkat sementara pemerintah tetap dan terus menjaga minuman-minuman ini beredar untuk dikonsumsi oleh anak-anak mudah dari kegenerasi ke generasi. Penyakit HIV-AIDS yang kebanyakan yang terkena adalah orang Papua asli dan terlebih orang pegunungan, yang jika tidak menjadi prioritas di ditekan mulai dari kesadaran pribadi,keluarga, masyarakat terlebih pemerintah melalui kebijakan-kebijakan yang berpihak. Perjudian membuat orang Papua semakin lupa berkebun, beternak, nelayan sehingga masyarakat Papua bukannya maju tetapi mundur karena menjadi miskin, menjadi pemalas, menjadi termanja sehingga akan hidup kelaparan hingga kembali berkebun,beternak dan nelayan adalah pekerjaan yang perlu ditumbuhkembangkan.Firat atau prediksi tersebut barangkali menjadi ingatan penting yang menjadi perhatian kita semua dimasa-masa mendatang mulai dari pribadi,keluarga dan masyarakat. (modes)
Bagikan artikel ini



