NABIRE – Para tenaga kesehatan (Nakes) di RSUD Nabire, Rabu (30/6/21) menggelar aksi menuntut pembayaran insentif dan honor. Mereka menyebut insentif Nakes di RSUD Nabire belum dibayarkan sejak Januari hingga Juni 2021 sementara honor bagi Nakes di RSUD juga belum dibayarkan sejak Januari hingga Mei 2021 ini. Para Nakes yang terdiri dari dokter, perawat, staf, serta tenaga honor menuntut agar hak mereka segera dibayarkan. Saat mereka beraksi, pelayanan di RSUD Nabire sempat terhenti. 

Para Nakes itu sempat berkumpul di halaman RSUD menunggu kehadiran Penjabat Bupati Nabire. Mereka ingin mendengar penjelasan dari Penjabat Bupati Nabire apa yang menyebabkan insentif dan honor mereka belum terbayarkan hingga saat ini. 

Setelah ditunggu cukup lama oleh para Nakes, akhirnya Penjabat Bupati Nabire pun berkesempatan hadir di RSUD Nabire. Penjabat Bupati Nabire, dr. Anton T. Mote didampingi Kabag Hukum Setda Nabire, Derek Kambuaya. Para pejabat itu langsung menuju ke aula pertemuan di lantai dua RSUD Nabire.

Pada kesempatan itu, Penjabat Bupati Nabire, dr. Anton T. Mote, menjelaskan terkait soal anggaran yang berkaitan dengan alokasi untuk pembayaran intensif dan honor Nakes di RSUD Nabire. Dia menjelaskan pihaknya bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) akan mengatur agar anggaran bisa teralokasikan untuk pembayaran intensif dan honor itu. Dimana dana yang digunakan berasal dari sumber dana yang tepat. 

Karena menurut pendapat Penjabat Bupati Nabire, tidak tepat jika dana untuk pembayaran intensif dan honor itu diambilkan dari sumber dana penanggulangan Covid-19 di daerah.

“Jangan sampai pembayaran insentif dan honor itu diambilkan dari sumber dana yang tidak tepat. Karena jika menggunakan sumber dana yang tidak benar, kedepan akan berimbas adanya temuan oleh pihak pemeriksa,” jelasnya.

Lanjut Penjabat Bupati Nabire, dirinya bersama TAPD akan mengatur soal anggarannya agar pembayaran insentif dan honor itu bisa segera dibayarkan.

Sementara itu, para Nakes RSUD Nabire bersikeras agar insentif dan honor itu bisa dibayarkan dalam hari itu juga. Karena menurut mereka, soal pembayaran itu telah dibicarakan pada pertemuan hari sebelumnya. Sementara Penjabat Bupati Nabire mengestimasi pembayaran akan bisa dilakukan dalam satu atau dua hari kedepan. 

Anggota DPRD Nabire, Salmon Pigay, juga turut hadir pada pertemuan itu. Dirinya menegaskan jika insentif dan honor adalah hak para Nakes di RSUD Nabire. Sehingga wajib hukumnya agar pemerintah daerah untuk bisa membayarkan. Dirinya meminta agar pemerintah daerah segera mengupayakan proses administrasinya sehingga pembayaran bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Direktur RSUD Nabire, dr. Andreas Pekey, SpPD yang turut hadir pada pertemuan itu menjelaskan, tuntutan yang diminta adalah insentif ASN, insentif dokter, insentif risiko uang jaga dokter yang belum dibayar Pemkab Nabire.

“Aksi ini tidak seharusnya tidak boleh sampai terjadi tapi karena sudah terlalu lama sehingga Nakes tidak bisa menahan diri dan emosi,” jelasnya.

Menurutnya, akibat aksi ini, pasien diabaikan selama beberapa jam di mana para Nakes mogok dan tidak mau memberikan pelayanan.

Dari data RSUD Nabire, jumlah Nakes terdiri dari ASN (dokter, perawat, staf) sebanyak 339 orang dan honor Pemkab sebanyak 239 orang.

“Kasihan pasien, mereka diabaikan dan tidak boleh ini terjadi, tapi Nakes juga menuntut haknya,” tuturnya.

Lanjutnya, persoalan insentif Nakes di RSUD bukan hal baru.  Sebab sebelumnya selalu terjadi aksi serupa. Sehingga, perlu ada kejelasan dari Pemkab Nabire apakah ingin membayar hak Nakes atau tidak.

“Kita juga bosan, dari tahun ke tahun selalu demo baru dapat insentif. Jadi kalau mau kasih kasih, tidak ya tidak. Kami minta kejelasan Pak Penjabat Bupati,” lanjutnya.

Aksi ini sempat diwarnai saling dorong. Sempat juga ada seorang pria yang istrinya hendak melahirkan tidak mendapat pertolongan dari Nakes yang sedang menggelar aksi. Pria yang tidak menyebutkan namanya ini kemudian diberi waktu untuk menyampaikan keluhannya.

“Saya minta dengan hormat, istri saya mau melahirkan tetapi tidak ada bidan. Ketuban sudah pecah, tolong saya bidan,” katanya. (ros)