NABIRE – Ketua LPMA SWAMEMO, Thobias Bagubau merasa terancam dan tidak aman sehingga dirinya mencari perlindungan. Perjuangan yang dilakukan untuk masyarakat di lokasi pendulangan, dipersempit sehingga tertutup. Munculnya perasaan tak aman dan ancaman, pasca terjadinya keributan yang berujung tindakan fisik, Senin (17/11) siang lalu.   Kronologis kejadian versi Thobias Bagubau saat memberikan keterangan kepada media ini, menuturkan, pengurus LPMA SWAMEMO atas nama Sefanya Widigipa berencana akan naik ke lokasi pendulangan 99 dengan tujuan untuk penyampaian aspirasi terkait kunjungan Gubernur Papua dan Bupati Paniai di lokasi pendulangan. Hal ini sudah dikoordinasikan dengan Kepala Distamben Paniai dan yang bersangkutan sudah menyetujui dengan rencana ini. Terkait dengan keberangkatan Sefanya Widigipa, kata Thobias, dirinya sudah berkoordinasi dengan Ketua Konsorsium Pertambangan, Maxi Adii agar bisa menaikkan Sefanya Widigipa untuk berkoordinasi dengan masyarakat supaya saat ada kunjungan bisa berjalan lancar dan tertib. Saat itu ada flight milik Enal, Maxi mengarahkan untuk berkoordinasi dengan Enal sebagai pemilik flight. Saat Sefanya Widigipa menemui Enal, Enal menolak dan mengaku belum ada informasi soal adanya penumpang atas nama Sefanya Widigipa dari Maxi. Saat Sefanya ke Bandara untuk mengurus keberangkatannya, tidak bisa menemui Maxi, dan hanphone milik Maxi saat itu tidak bisa dihubungi. Kata Thobias, pihaknya merasa dipingpong untuk keberangkatan ke lokasi pendulangan. Padahal, kata Thobias, LPMA SWAMEMO merupakan lembaga resmi dan selama ini lembaga ini tidak pernah meminta-minta ke pengusaha. Karena belum juga ada kejelasan, Sefanya Widigipa paksa duduk di atas helikopter yang akan berangkat. Dari pihak petugas loading angkutan sempat menarik Sefanya Widigipa untuk turun dari helikopter. Saat itu, adik Maxi pun sempat mengancam Sefanya Widigipa. Melihat situasi saat itu, kata Thobias, dirinya marah. Jika memang tidak ada flight untuk Sefanya Widigipa kenapa tidak diberitahukan sejak awal, bukan hanya dijanji-janji. Situasi yang memanas berimbas Sefanya sempat melakukan tindakan fisik terhadap adiknya Maxi. Keduanya, Sefanya dan adiknya Maxi sempat berdebat mulut. Tidak berselang lama, ada aparat kepolisian yang datang ke TKP, sempat terjadi adu fisik antara pihak Sefanya dengan petugas kepolisian yang mendatangi TKP. Versi dari sumber lain kepada media ini menyebutkan, petugas kepolisian mendatangi TKP karena terjadi keributan. Menurut sumber ini, kedatangan petugas kepolisian ke TKP dengan tujuan untuk melerai perselisihan yang terjadi di lokasi itu. Thobias mengaku bahwa dirinya sempat mendapat tindakan fisik dari aparat keamanan. Sementara dari sumber lain menyebutkan, pihak aparat juga sempat mendapatkan perlakuan fisik dari Sefanya Widigipa. Kembali dikatakan Thobias, dirinya sempat diinterogasi di Pos Polisi Bandara Nabire, dan sempat mendapatkan tindakan fisik. Setelah itu, kata Thobias, dirinya dibawa ke Polres Nabire. Setibanya di Polres Nabire dirinya ditahan sejak sekitar pukul 13.00 WIT. Penahanan terhadap dirinya mendapat tanggapan dari rekan-rekannya, baik dari Komnas HAM Papua, Ketua Dewan Adat Paniai. Rekan-rekannya berusaha untuk mengeluarkan dirinya dari tahanan. Akhirnya dirinya dibebaskan sekitar pukul 17.00 WIT. Mensikapi hal tersebut, Thobias menuturkan, dirinya akan menanyakan kepada Konsorsium Pendulangan informasi soal uang-uang yang dibayarkan oleh para pengusaha dialokasikan untuk apa. Dirinya juga akan mempertanyakan dasar hukum berdirinya lembaga konsorsium tersebut. “Karena emosi pengurus saya sempat melakukan tindakan fisik terhadap anggota Polisi. Saya minta maaf atas kejadian itu. Kesalahan ada di konsorsium,” tuturnya. Thobias mengaku telah diperlakukan dengan tidak adil, dirinya mendapat pukulan juga ada ancaman. Dirinya mempertanyakan apakah persoalan ini kedepan akan diproses secara hukum ? Menurut Thobias, ada UU yang dilanggar oleh pihak aparat yakni UUD 1945, serta UU 39/99 tentang HAM. Seharusnya tidak dilakukan penganiayaan tapi cukup dengan menahan pelaku. Apapun masalahnya, kata Thobias, dirinya terus mendukung upaya yang dilakukan Bupati Paniai, daerah ditertibkan atur kembali, SWAMEMO mitra pemerintah daerah dukung 100 persen program Pemda Paniai. Pihaknya akan terus mengkontrol untuk kepentingan semua orang dan tidak boleh ribut seperti saat ini.   Sementara itu, pasca insiden yang berbuntut timbulnya tindakan fisik terhadap dirinya, kata Thobias, dirinya sudah mengadukan kepada Komnas HAM. (ros)