Kenali Karakteristik Caleg, Jangan Ambil Uangnya, Pilih Orangnya
NABIRE - “Kenali Caleg, baca fisik, baca visi misinya, baca karakteristik pribadinya, orang ini bisa diterima atau tidak, bila bisa diterima jangan terima uangnya tetapi pilih orangnya untuk jadi wakil rakyat. Begitu datang serangan malam, serangan fajar bagi-bagi duit sega
Bagikan
NABIRE - “Kenali Caleg, baca fisik, baca visi misinya, baca karakteristik pribadinya, orang ini bisa diterima atau tidak, bila bisa diterima jangan terima uangnya tetapi pilih orangnya untuk jadi wakil rakyat. Begitu datang serangan malam, serangan fajar bagi-bagi duit segala macam, bila punya nurani, tolak. Tetapi kalau memang mau berbisnis deal saja dan jangan pilih yang berkarakter begitu dan ingat jangan gadaikan lima menit dengan lima tahun”.
Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Provinsi Papua, Triwibowo, SE., MM., beberapa waktu yang lalu.
Terag Triwibowo, Pemilu sering disebut pesta rakyat, rakyat berpesta yang hajat para Caleg dan Parpol, hasilnya ada dua sinkronisasi yaitu pembuat kesalahan sama penerima kesalahan.Begitu pesta dilaksanakan, rakyat meminta sejumlah hal layaknya dalam pesta seperti konsumsi dan lain-lain dan para Caleg diminta untuk menyiapkan semuanya.Setelah pesta berlangsung dan selesai terpilihlah pemenang-pemenang yang secara tidak langsung itu hasil ciptaan masyarakat, masyarakat menciptakan parade wakil rakyat dengan tanda petik, dimana dari awalnya mereka sudah membeli.
Tuturnya, hasilnya, kebanyakan setelah lima tahun Para Caleg berkata “Maaf saya saudaranya, saya sudah beli lunas dan pesta sudah selesai.Ini kesalahan mendasar karena masyarakat menciptakan anggota legislatif yang korup dan lupa diri bahwa dia wakil rakyat,” ujarnya.
Kedua, orang bilang pesta rakyat pesta demokrasi, hasilnya Parpol yang seharusnya secara terbuka dengan gamblang memperkenalkan dan menyampaikan kepada rakyat bahwa parpol salah satu pilar demokrasi yang seharusnya mencerahkan masyarakat bagimana berpolitik yang santun, benar dan bagaiamana melaksanakan politik diatas aturan-aturan, kaidah-kaidah yang berlaku.
Ada aturan tertulis diantaranya jauhi korupsi, jangan menerima imbalan yang bukan haknya, pemilih dan yang dipilih jangan menciptakan kondisi pada pesta demokrasi yang mana partai politik sering dianggap sebagai mesin uang (ATM), datang kemana-mana untuk sosialisasi, masyarakat bilang “Wani Piro ?” (Berani Berapa), ach saya sudah capai dengan janji-janji. Betul, dalam politik ada politikus busuk, tapi ingat jangankan politikus, sinetron juga bawa, ustadz juga manusia, bila politikus dibilang busuk itu beararti generalisasi.Yang betul disemua lini kehidupan ada manusia baik dan ada yang tidak baik dan itu kembali pada karakter, jangan menjastifikasi kemudian mendeparpolisasi bahwa politik itu busuk.
“Pemilu Legislatif 2014, pesertanya tinggal 12 parpol, masa dari 12 parpol tidak ada pemimpinya yang mampu memberikanpencerahan kepada masyarakat, memberikan visi misi yang jelas bahwa politik itu penting, karena tanpa politik tidak hidup berdemokrasi, tanpa demokrasi berarti mundur kejaman dulu.Kita sudah sepakat kita punya demokrasi, kita sudah sepakat dengan Bhineka Tunggal Ika, jalani baik-baik, terjememahkan visi demokrasi seperti apa,” ungkapnya.
Tribowo mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan parpol sebagai mesian uang (ATM). Ketua DPW PKB Papua mengajak, pertama, melihat siapa Caleg yang datang, kedua kenali dan mengenali Caleg, ketiga, baca fisik, baca visi misinya, baca karakteristik pribadinya, orang ini bisa diterima atau tidak, bila bisa diterima jangan terima uangnya tetapi terima orangnya untuk jadi wakil rakyat, begitu datangdengan serangan malam, serangan fajar bagi-bagi duit segala macam bila punya nurani tolak, tetapi kalau memang mau berbisnis deal saja dan jangan pilih yang berkarakter begitu dan ingat jangan gadaikan lima menit dengan lima tahun.
Dikatakan Triwibowo, yang mengerikan menjadi anggota DPR itu adalah sumpah jabatan.
Coba kita ikuti sumpah jabatan, jabatan apapun termasuk DPR, Demi Tuhan Saya akan amanat, saya akan laksanakan tugas, saya akan berdiri diatas kepentingan rakyat, kalau Tuhan saja sudah ditipu bagaimana dengan masyarakat. Agar tidak terjadi penipu-penipu politik seperti itu dalam tanda petik pelacur politik bagaimana, ya sama-sama mencerahkan, Caleg mencerahkan dengan menyampaikan visi dan misinya kepada masyarakat, masyarakat mendengar dan menilai karakteristik Caleg, bila bisa dipilih pilih, bila bawa duit ambil uangnya jangan pilih orangnya. (iing elsa)
Bagikan artikel ini



