Karto dan Ibnu Parijoto
Cerpen : Pace Munib

Cerpen : Pace Munib
Pertemuan Karto dan Ibnu Parijoto sebuah pertemuan yang tak disangka-sangka. Di hiruk pikuk Jakarta yang tak saling mengenal dan tak saling peduli, adalah sebuah kemewahan ketika dua kawan lama itu bertemu. Mereka berdua adalah alumni SMEP Jelambar di era tahun 1980-an. Namun kehidupan keduanya seperti paradoks. Jauh bumi langit.
Ibnu Parijoto berasal dari Jawa Tengah. Orang tuanya asal Jepara. Karto juga berasal dari Jawa Tengah. Tepatnya dari Bandung Sari. Sebuah kampung di kaki gunung Lio. Kedua teman dekat di sebuah sekolah di Jakarta dulu itu bertemu dalam momen langka.
Karto sendiri serelah selesai sekolah kerja di Matahari. Bukan Matahari di langit, tapi Matahari Departemen Store. Kemudian berhasil menggait Bu Neng sebagai istrinya. Lama dia jualan cilok. Dan ketika lewat di depan sebuah kantor seseorang bertetiak namanya.
"Kartooooo"
Karto memalingkan muka ke arah sumber suara. Dilihatnya lelaki berdasi itu dari kepala sampai ujung kaki.
"Siapa ya. Maaf saya tidak mengenal bapak."
"Jangan panggil saya bapak. Saya Ibnu. Ibnu Parijoto. Kita duduk sebangku di SMEP Jelambar."
"Ya Alloh Ibnu. Parijoto. Sudah 30 tahun kita tak ketemu sejak perpisahan sekolah dulu. Kamu makin ganteng saja. Pakai dasi. Kalau saya ya begini ini. Jualan telur belekok.
Parijoto menahan Karto.
"Hari ini jualanmu di borong karyawanku. Habis itu kita ke ruang kerja saya. "
Di ruang kerjanya Ibnu menjelaskan jabatannya sebagai direktur Pesantren Sains.
"Sebentar. Sebentar dulu. Bikin pesantren kan tidak gampang. Di sekolah dulu kita badung bersama. Karena kau sudah pakai kata Pesantren bisakah saya bertanya soal keagamaan yang selama ini mengganjal.
"Tidak nasalah. Waktu untuk kawan lama tetbuka lebar." kata Ibnu Parijoto.
**
Karto menahan nafas. Tak menyangka teman satu bangku dulu menjadi sesukses ini.
"Apa engkau bangga dengan capaianmu ini. Nama terkenal. Punya lembaga pendidikan. Isteri cantik. Anak ganteng-ganteng." Karto mengawali percakapan mereka.
"Ketika kau mencintai bentuk, kau sedang terikat pada yang terbatas. Semua yang tetbatas dalam bentuk terbatas pula dalam waktu alias sementara." kata Parijoto.
"Lalu apa yang layak kita cintai ? " tanya Karto.
"Alloh."
"Bagaimana mencintai yang tak kasat mata dan tak terjangkau panca indera ? "
"Kau harus belajar hakikat. Bahwa realitas itu ada yang fisika ada yang metafisika. Bahkan semua yang fisika berasal dari metafisika."
"Apakah benak kita juga metafisika ? "
"Benar. Benak kita bagian dari semesta metafisika yang maha luas dan pelik. Kepada realitas ghaib inilah orang beriman wajib mempercayai keberadaannya."
"Di Alquran surah 72 ada namanya surah Jinn. Apa Jinn itu juga metafisika ?
"Termasuk. Karena Jinn tidak bisa dijangkau oleh panca indera manusia. Dia diberi akal sama dengan kita. Dia termasuk pihak
yang diberi kemerdekaan dan dimintai tanggung jawab."
"Bagaimana kita dapat memahami konten-konten dalam Al Quran yang hampir seratus persen metacisika ? Surga, neraka, berbagai nama malaikat, kebangkitan, mahsyar dan pengadilan ilahi."
"Ya. Kabar-kabar tentang masing-masing entitas metafisika itu yang dibawa oleh setiap nabi pada kaumnya. Para nabi adalah makhluk sejarah, fisika yang hidup diantara kita seperti kita. Pergi ke pasar sama dengan kita. Mereka adalah gerbang pintu masuk mengetahui metafisika."
"Allah juga metafisika ? "
"Dia metafisika mutlak."
"Bagaimana metafisika yang mutlak bisa diketahui. Sedangkan metafisika tak mutlak saja tidak dijangkau panca indera ? "
"Disinilah seluruh eksistensi sementara akan berakhir. Dan yang abadi hanya eksistensi mutlak yang menjadi sumbet limpahan eksistensi pemberian. Alloh sebagai wajibul wujud. Makhluk sebagai mumkinul wujud. Tapi semua keterangan ini hanya teori metafisika yang dibungkus bahasa. Walhasil pembahasan ini masih berputar dibenak kita berupa konspesi gambaran-gambaran semata."
"Kalau begitu, jelaskan ke saya benak itu bagaimana ? "
"Pada sebuah periode dari perjalanan waktu, manusia hanya sebagian dari primata saja. Belum layak untuk diberi kemerdekaan dan diminta tanggung-jawab. Sampai disini benak yang kau tanyakan itu pernah belum ada. Pada sosok Nabi Adam lah benak yang kau tanyakan itu baru eksis."
"Dikatakan bahwa tidak diciptakan Jinn dan manusia kecuali untuk menyembah Alloh. Sedangkan sifat Kaya (ghani) Allah tak membutuhkan penyembahan. Bahkan dikatakan jika seluruh makhluk berakal tak menyembah Nya, tak sebutir debu pun eksistensi Ketuhanannya berkurang."
"Point-nya pada asumsi potensi akal ketika benar-benar digunakan. Pada kondisi ini tidak selayaknya makhluk berakal terjatuh dalan kehinaan. Jadi benak yang kau tanyakan itu entitas metafisika yang membuat kumpulan daging dan tulang di tubuhmu disebut manusia."
"Kasih saya penjelasan tambahan lagi tentang benak."
"Pola bagaimana benak itu bekerja ditemukan oleg filsuf Aristoteles. Diabadikan dalam Kitab Mantiq Aristo. Yang kemudian oleh para ulama muslim dikawal sebagai ilmu mantiq dan ma ba'da tsabi'at. Dalam tradisi para ilmuwan kemampuan benak membaca pola-pola keteraturan realitas ini dikemas dalam proposisi-proposisi ilmiah sesuai bidang-bidang subjek terminologinya masing-masing. Penilaian-penilaian yang menjadi rumus, kaidah atau formula itu yang jadi sumber dan nilai ilmu pengetahuan yang disebut epistemologi. Kurangnya pengetahuan msnusia pada bagaimana benaknya sendiri bekerja mengakibatkan lekuasanya pihak penghegemoni melakukan falasi. Dalam keadaan ini manusia tenggelam dalam banjir hoax. Benaknya dipenuhi proxy. Dikalahkan dalam perang kognisi."
"Terima kasih Kiai, panjenengan telah membuka banyak hal untuk saya. Bolehkah saya menambah lagi pertanyaan yang selama ini saya simpan ?
"Tidak mengapa. Mumpung Tuhan masih memberi kita kesempatan emas. Waktu di dunia ini hanya sebentar."
"Kengenai jiwa, Kiai. Apa jiwa itu ? "
"Nafs atau jiwa adalah suatu entitas berupa identitas. Ada nafs unsuriah, itu jiwa bebatuan. Ada nafs nabaitiah, itu jiwa pepohonan. Ada nafs hayawaniah, itu jiwa binatang. Ada nafs insaniah, itu jiwa kita manusia. Karena pembeda kita dengan binatang hanya akal, maka disebut nafs akliah."
"Keterkaitannya dengan risalah yang dibawa para nabi yang dialamatkan buat manusia itu bagaimana ?
"Kita ketahui dulu dua hal, berupa hal kauniah dan tasyri'iyah. Semua nafs tadi dibuat dalam Kun fa Yakun. Secara alami. Dimensi ragawi manusia terikat hukum kauniyah. Tapi dimensi rasionalitas manusia diberi kemerdekaan dan dimintai tanggung jawab. Proposisi kuatnya : Tak selayaknya manusia yang menggunakan akalnya terjatuh dalam kehinaan."
"Tentang jiwa kita yang berkeabadian. Tolong jelaskan ini juga."
"Oh ya, saya lupa bagian itu. Mengenai jiwa berkeabadian, kita harus pahami pola andgame kehidupan rasional, aturan Alloh atau syariat, dan janji pahala siksa. Benak yang kita bahas diatas tadi itu juga amanat. Nsmanya amanat akan mrnimbulkan pahala jika dipegang baik, dan akan menimbulkan malapetaka kehinaan jika tidak dipegang baik atau khianat. Keabadian jiwa masih berada dalam keabadian pemberian. Bukan keabadian mutlak."
"Jelaskan kepada saya tentang pergeseran dari cahaya ke kegelapan dan dari kegelapan menuju cahaya ? Itu cerita tentang apa ? "
"Tentang kondisi jiwa kita. Perlu kita camkan baik bahwa subjek yang diseru wahyu adalah jiwa manusia. Otomatis semua gambaran baik itu tauhid, sejarah maupun aturan ilahiah itu subjeknya jiwa. Kehidupan jiwa bergerak seperti grafik jarum seismograf yang naik turun. Terus menerus dalam potensi gerak instabilitas. Makanya perlu diberi pemberat melalui bobot istiqamah dalam kebaikan. Pastikan dan jaminkan jiwamu tetap baik sampai akhir hayat. Baik itu artinya kelayakan yang selayaknya dari dan bagi makhluk berakal."
"Bagaimana pengetahuan Alloh bekerja ketika Dia mengetahui sehelai daun bambu kering yang jatuh di belakang rumahku tadi malam jam satu ? Bagaimana Alloh menceritakan isi kehidupan ini semuanya dalam kitab sucinya, dengan cara bagaimana Dia mengetahuinya ? "
"Pengetahuan secara huduri. Sama pengetahuanmu terhadap rasa lapar yang menimpamu. Engkau tahu engkau lapar tanpa berpikir di benakmu.
"Jelaskan padaku tentang nafs al Muthma'innah. Nafs Lauwamah juga nafs Amarah.
"Nafs kita. Atau jatidiri kita. Atau Dia yang kepadanya alamat wahyu perlu disampaikan oleh nabi. Atau dia yang diberi kemerdekaan dan dimintai tanggung jawab. Adalah entitas yang bergradasi. Level-level itu digambarkan dengan nama-nama capaian diatas."
Malam semakin menuju ke jam kecil. Karto pamitan, karena besok harus persiapan memasak dagangan ciloknya lagi. Sebelum pamit ia berbisik pada Ibnu.
"Kau dapat ilmu seperti ini dari mana. Bukankah ini di pesantren pada umumnya juga tidak diajarkan ? "
" Ada. Seseorang yang gila ilmu ma ba'da tsabi'ah telah membuka pikiranku. Kau hanya pedagang cilok kecil, pertanyaanmu sangat jauh melebihi siswaku. Kau sendiri dapat ini dimana ? "
"Kamu jangan meledekku. Setelah SMEP dulu saya tak melanjutkan seperti kamu. Di kampung saya hanya buka Bengkel Solawat Karto. Saya publis dalam pupijian sebelum imam sholat datang."
"Saya tidak mungkin salah To. Saya bisa melihat percikan cahaya dari dalam dirimu. Kalau menurutmu masih rahasia, tak petlu disebutkan namanya."
"Perjalanan ketiga ini tepat diberikan padamu. Turunkan semua pengetahuan yang ada itu dalam ranah epistemologinya yang lengkap. Saya terus sedang bertugas keliling pasar bertemu masyarakat banyak." Saya mohon pamit, kata Karto.
Ibnu Parijoto hampir jatuh tersungkur. Rahasianya dibuka oleh Karto.
Sejak saat itu Karto tak kelihatan lagi jualan di lorong itu. Ibnu menugaskan kepada stafnya untuk mencari Karto. Tapi hasilnya nihil. Dalam hati Ibnu terlintas tugas apa lagi setelah menara gading sekarang selesai. Ke pasar mana ia akan dilempar ia pun belum rahu. Apalagi sejak dunia diambang perang para wali sedunia dikerahkan ke Iran membantu pasukan Mujtaba. Akan banyak kekeringan dan kebanjiran dimana-mana.
*
Bagikan artikel ini



