NABIRE – Kebersamaan antara etnis, agama, golongan dan generasi merupakan modal untuk menyukseskan pembangunan di daerah dan mewujudkan kondisi daerah yang aman dan damai diantara sesama penduduk. Pembangunan tidak bisa dilaksanakan oleh salah satu etnis, golongan dan agama tertentu tetapi harus bersatu padu, membangun kebersamaan, kita semua terlibat untuk mewujudkan pembangunan yang merata dan menjaga kondisi daerah yang aman.Calon Gubernur Papua, John Wempi Wetipo usai menghadiri peringatan perintgatan ulang tahun 79 Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah III Nabire, Jumat (6/4) mengatakan membangun sesuatu tidak bisa ditangani oleh satu dua orang/kelompok, tetapi harus dibangun secara bersama-sama untuk mencapai hasil yang optimal dan menjaga stabil keamanan di dalam agar tetap aman, tidak ada kecewa dan terlupakan sehingga menimbulkan kekecewaan dan protes.Kader PDIP ini mencontoh, mengangkat skop saja tidak bisa dengan satu jari, harus dengan lima jari agar pegangannya kuat. Kalau mengangkat dengan satu atau dua jari saja tidak mampu. Sama halnya dengan membangun, harus dibangun secara bersama-sama. Oleh karena itu, kita membangun kebersamaan diantara semua komponen tanpa membedakan etnis, kelompok, agama dan lain-lainnya agar apa yang kita bangun menjadi milik bersama karena dibangun melalui kebersamaan.Oleh sebab itu, kata Wetipo, logo yang dipakai pasangan JOSUA adalah genggaman tangan. Logo ini menggambarkan kebersamaan antara semua kelompok dan etnis yang dilukiskan lewat jari tangan dengan genggaman sebagai simbol kebersamaan yang bersimpul menjadi satu.Pasangan calon Gubernur Papua nomor urut 2 ini menjelaskan, pasangan JWW-HMS lebih mengedepankan kebersamaan semua untuk Papua, lewat kebersamaan semua pihak kita membangun daerah ini menuju masa depan Papua yang cerdas.Untuk menuju Papua yang cerdas, JWW menilai kita perlu merevolusi mental. Membangun orang Papua, tidak cukup hanya dengan pintar tetapi harus dibarengi dengan perubahan mental melalui dengan revolusi mental agar tidak mampu bersaing lewat ilmu dan pengetahuan tetapi juga mental orang Papua harus dipersiapkan untuk bersaing melalui revolusi mental agar mampu bersaing dengan sesama yang lain dari luar Papua. Oleh sebab itu, JWW-HMS memilih Menuju Papua Cerdas melalui revolusi mental, mental orang Papua harus disiapkan agar siap menghadapi persaingan tidak hanya pintas tetapi cerdas dengan melakukan revolusi mental yang siap untuk menghadapi persaingan dalam berbagai hal dan aspek kehidupan.(ans)