Jati Diri Sebagai Anak Budaya dan Pewaris Iman
NABIRE - Jati diri sebagai anak budaya dan pewaris iman, banyak anak-anak muda yang tidak tahu berdoa, doa-doa dasar semakin hangus, kendala
Bagikan
NABIRE - Jati diri sebagai anak budaya dan pewaris iman, banyak anak-anak muda yang tidak tahu berdoa, doa-doa dasar semakin hangus, kendala kita apa, karena kita punya katakese lemah bahkan hampir tidak ada memang benar. Demikian diungkap Pastor Paroki Santo Yosep Nabar Pastor Injonito Gerry Da Krus Sch. P seusai kegiatan seminar tentang pentingnya pengenalan dan pengembangan jati diri sebagai orang muda Papua dalam dinamika perubahan dunia yang diberikan pemateri adalah Kepala Dinas Bappeda Kabupaten Intan Jaya Joni Gobai, S.IP.,M.Si, Jumat (30/8), bertempat di Gereja Katolik Yohanes Pembabtis Kaladiri I.Sambil duduk bersama didepan halaman gereja para pewarta, ketua kring, pembina orang muda Katolik di masing-masing kring serta para orang tua, pastor mengatakan, kami ini krisis yang terpenting sekarang itu, krisis media sosial banyak kaum muda diantara kita tidak tahu mengunakan media yang baik dan benar.Dikatakan Pastor, kita beli Hp besar hanya untuk apa, Mensos, WA dan main game-game saja dan update keluaran baru harga naik dan ingin yang baru. Ini mentalitas mau update barang tapi itu memiskinkan. Apa paling tidak kemiskinan agama orang tidak punya waktu untuk berdoa. Apalagi kita anak-anak muda berdoa susah. “Maka tadi saya bilang banyak anak-anak muda belum tahu berdoa, doa-doa dasar kita masih hancur kendala kita apa karena pertama katakese kita masih lemah bahkan hampir tidak ada memang benar kita kumpul berdoa rosario selesai langsung pulang begitu pula juga ibadah hari minggu pastor datang kasih stipen selesai langsung pulang ini yang terjadi selama ini. Sementara gereja dibangun doa kita punya beban moral besar kita disini katolik dapat warisan iman tugas kita semua mewariskan iman itu kepada anak cucu kita dengan berdoa ajar doa-doa dasar, ajak ke gereja, ajak ke sekolah itu saja. “Tantangan karya pewarta kita disini bagaimana saya mau lanjutkan apa yang terima dari orang tua kita, pewarta kita, katakis kita, kepada anak cucu, iman diwariskan begini tantangan kaum muda yang kita dapat anak-anak tadi curi, mabuk, Narkoba, aibon dan lain sebagainya tentang tantangan besar saat ini pengunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab,” tambah pastor.Lanjutnya, banyak anak-anak kita yang mereka datang ke gereja itu betul tapi malam itu bahkan tidur di terminal, sampai pagi. Ketika kita tanya mereka, karena tidak ada perhatian komunikasi dia dengan lawan disana ini yang untuk perhatian dia punya teman bicara teman. Ini mungkin jenis lawan kah atau kawan kah atau sesama kah ingin diperhatikan, ingin merasa saya berharga,” katanya. Penanaman nilai kita harus angkat bukan sebatas doa-doa saja, tetapi nilai kasih sayang, nilai kebersamaan, nilai kekompakan, nilai persatuan dan kesatuan, terima merasa nyaman ini yang perlu kita laksanakan hidup kehidupan kita. Tantangan yang berikut kita punya anak-anak muda khususnya, nilai tadi kehilangan jati diri anak muda menanam pewaris iman budaya, karena kita orang tua dan dirinya tidak tahu pegang budaya apalagi anak-anak muda kita saat ini dan anak-anak cucu kita kedepan lebih berbahaya kalau kita tidak ajar budaya kita masing-masing suku mulai dari sekarang perlu angkat dan wariskan generasi, karena budaya merupakan warisan indetitas jati diri kita. “Kita krisis marga dan krisis pengenalan budaya, anak duduk dengan orang tua sekarang tidak bisa to karena dia pegang Hp, orang tua perintah kerja ini, melawan hingga waktu tersisa hanya mengunakan pengaruh itu. Di kampung bagaimanakah belum ditanyakan kepada orang tua dulu atau di kampung tanam nota itu caranya bagaimana, berburu itu caranya bagaimana, berkebun itu bagaimana, pasang api adat itu caranya bagaimana dan lain sebagainya, padahal ini nilai budayanya sangat mahal dan semua terkandung didalam tunggu api keluarga hingga perlu kita lestarikan kembali itu penting,” pungkasnya. (modes)
Bagikan artikel ini



