Ironi, Tenaga TKSK Dihargai Rp.150.000/Bulan
NABIRE – Sangat ironi, nasib Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang tersebar di setiap distrik sejak 2014 lalu, dihargai d
Bagikan
NABIRE – Sangat ironi, nasib Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang tersebar di
setiap distrik sejak 2014 lalu, dihargai dengan honor Rp. 150.000 per bulan
atau Rp. 400.000 per triwulan. Padahal, mereka ini ditempatkan sebagai ujung
tombak untuk pendataan dan pelaporan semua permasalahan sosial yang ada di
kampung dan distrik ke kabupaten. TKSK juga sebagai tenaga penataan data induk
permasalahan sosial di distrik. Disamping itu, TKSK juga sekaligus menjadi tenaga terdepan di dalam penanganan bencana,
sebagai Tenaga Siaga Bencana (Tagana) dan tugas-tugas lainnya di tengah
masyarakat. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Nabire, Ishak, SE sebelum menutup Rapat Koordinasi Verifikasi
dan Validasi Data Keluarga Miskin di Ruang Pertemuan Dinas Sosial, Rabu
(29/11), mengatakan akibat sangat minimnya honor yang diberikan kepada TKSK,
saat mengantar laporan permasalahan sosial dari distrik ke kabupaten untuk
selanjutkan diteruskan ke Dinas Provinsi dan Kementerian Sosial (Kemensos),
biaya transportnya lebih besar dibanding honor yang diterima setiap triwulan,
hanya sebesar Rp 400.000. Oleh karena itu, sebagian dari mereka numpang dengan
keluarga untuk mengantar laporan ke kantor Dinas Sosial Kabupaten. Ishak menjelaskan, TKSK ini direkrut oleh Kementerian Sosial untuk ditempatkan di
setiap distrik sejak 2009 lalu. Tetapi di Kabupaten Nabire, TKSK baru mulai
ditempatkan sejak 2014 lalu. Kementerian Sosial memberikan honor Rp.400.000
setiap triwulan. Selama ini, mereka hanya menerima Rp.400.000 per triwulan atau
Rp.150.000/bulan. Tidak ada tambahan honor dari daerah, sekalipun mereka ini
ditugaskan untuk membantu pemerintah daerah, melaporkan permasa lahan sosial di
distrik. Kepala Dinas Sosial mengatakan, honor yang diterima TKSK ini sangat kecil sehingga sudah
meminta perhatian pemerintah daerah untuk memberikan tambahan dana untuk honor
TKSK. Namun selama ini pula belum ada tanggapan. Bahkan dana yang diusulkan pun
dipangkas, Selain di daerah, kata Ishak, sudah ada permintaan dari semua Kepala Dinas Sosial se Papua kepada
Gubernur Papua tetapi itupun belum dijawab. “Saya sebagai Kepala Dinas Sosial, saya sangat prihatin, dan simpati kepada tenaga
sukarelawan sosial dengan honor yang sangat kecil. Sementara itu, mereka rajin
memberikan laporan secara rutin ke dinas sosial. Sangat-sangat saya prihatin
dengan honor TKSK yang sangat terkecil ini,” tuturnya dengan nada iba. Oleh sebab itu, ia mengharapkan adanya perhatian dan keprihatinan dari pemerintah daerah
terhadap sangat rendahnya honor TKSK yang tak seimbang dengan beban yang
diembankan, sebagai ujung tombak permasalahan social di daerah ini. Setidaknya
keprihatinan dan perhatian pemerintah daerah untuk menambah kesejahteraan dari
TKSK yang tersebar di 15 distrik, untuk menambah honor mereka agar layak
sebagai upah/honor yang diterima tenaga honor lainnya di daerah ini. Sebab, Ishak menambahkan, kendala utama yang dihadapi TKSK selama ini, masalah transportasi
saat penyampaian permasalahan social dari distrik. Ishak juga menghimbau kepada kepala kampung dan kepala distrik untuk tidak memperhambat di
dalam pengumpulan data dan laporan kondisi di kampung dan distrik.(ans)
Bagikan artikel ini



