DOGIYAI – Kepala Dusun Kampung Diyaikunu, Distrik Mapia, Silas Bunai, S.Sos., menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden pembakaran lahan yang menghanguskan kawasan bukit hijau di wilayahnya. Ungkapan sarat emosi dan refleksi spiritual ini disampaikan Silas saat berada di kawasan Pasar Pagi Bumi Wonorejo, Nabire, Senin (2/10/2026) kemarin.

Kawasan yang terbakar tersebut dikenal warga lokal sebagai tempat yang sejuk, ramah lingkungan, sekaligus area keramat yang diibaratkan sebagai ‘tempat tinggal bidadari’ dan tempat menari tradisional.

Secara geografis, Kampung Diyaikunu merupakan wilayah subur yang diapit oleh dua sungai besar, yaitu Kali Ekai dan Kali Adai, serta menjadi basis peradaban bagi keluarga besar Suku Mee (Simapitowa).

Silas Bunai secara terbuka memanjatkan doa dan meminta ampun atas kelalaian maupun perbuatan dosa yang merusak alam tersebut.

Sebagai pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Dogiyai, Silas menyerukan pesan penting kepada seluruh warga dan generasi muda: ‘Pupuda kiga mani tetode—alam warisan leluhur ini harus dirawat, bukan dibakar’.

Ia menegaskan beberapa poin krusial demi menyelamatkan lingkungan dari ancaman perubahan iklim global, yakni Larangan pembakaran hutan dan penebangan pohon secara liar di sekitar area tangkapan air.

Selanjutnya, perlindungan terhadap situs keramat lokal agar ekosistem penghuninya tetap sehat dan nyaman dan menghidupkan kembali nasihat orang tua terdahulu untuk hidup harmonis dan bersahaja dengan alam demi kelangsungan hidup yang panjang.

Aksi penyelamatan lingkungan hidup ini ditegaskan bersifat mendesak dan penting untuk segera dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat antropologi Suku Mee di tujuh hingga sembilan wilayah adat sekitar guna mempertahankan peradaban tanah Dogiyai. (don)