DOGIYAI – Membangun generasi emas tidak cukup hanya dengan menyediakan ruang belajar. Anak-anak juga membutuhkan akses terhadap pengetahuan, budaya membaca, serta kemampuan mengembangkan potensi diri sejak dini.

Semangat itulah yang mendorong Pemerintah Kabupaten Dogiyai melalui Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah menggelar pelatihan peningkatan kapasitas pengelolaan perpustakaan bagi pengelola perpustakaan kampung dan sekolah.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu, 14–15 September 2026, tersebut diikuti 21 pengelola perpustakaan. Mereka terdiri atas 13 pengelola perpustakaan kampung dan delapan pengelola perpustakaan sekolah binaan di sekitar wilayah Kota Moanemani.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong perpustakaan agar tidak lagi dipandang sebatas tempat menyimpan dan meminjam buku. Lebih dari itu, perpustakaan diharapkan berkembang menjadi pusat informasi, ruang belajar, sekaligus tempat yang menarik bagi anak-anak untuk mengenal dunia melalui buku dan berbagai sumber pengetahuan.

Asisten I Setda Kabupaten Dogiyai, Nason Pigai, S.I.P., dalam arahannya menegaskan pentingnya memperkenalkan keberadaan perpustakaan kampung kepada para siswa.

Menurutnya, perpustakaan merupakan “jendela dunia” yang dapat membuka wawasan anak-anak sekaligus mendorong tumbuhnya minat baca.

“Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Perpustakaan adalah jendela dunia yang dapat membantu anak-anak meningkatkan pengetahuan dan membentuk generasi Dogiyai yang cerdas serta kompetitif,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Nason juga menitipkan sejumlah pesan kepada 21 pengelola perpustakaan agar tidak hanya fokus pada aspek administrasi, tetapi turut menjadi penggerak pendidikan anak-anak di lingkungan masing-masing.

Salah satunya melalui gerakan 3M: Membaca, Menulis dan Menghitung yang perlu ditanamkan sejak usia dini.

Menurutnya, kemampuan dasar tersebut harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas dan karakter anak melalui muatan lokal. Anak-anak Dogiyai perlu dikenalkan dengan kehidupan adat, seni budaya dan tarian tradisional sebagai bagian dari proses pendidikan.

Tidak kalah penting, pendidikan juga diarahkan untuk membangun kemandirian hidup. Budaya produktif seperti berkebun dan beternak dapat diperkenalkan kepada anak-anak melalui pembelajaran yang berbasis kearifan lokal.

Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi berkembang menjadi kemampuan memahami lingkungan, mengenal budaya sendiri, serta memiliki keterampilan untuk menjalani kehidupan secara mandiri.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Dogiyai, Obet, S.Th., M.Pd., memberikan pembekalan langsung kepada para peserta.

Materi pelatihan diarahkan pada empat pilar utama pengelolaan perpustakaan.

Pertama, pemahaman tentang perpustakaan, terutama bagaimana mengubah pola pikir pengelola agar mampu menciptakan suasana perpustakaan yang ramah, nyaman dan menarik bagi anak-anak.

Kedua, landasan hukum perpustakaan, sehingga para pengelola memahami regulasi yang menjadi dasar dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan kampung maupun sekolah.

Ketiga, fungsi perpustakaan, yakni mengoptimalkan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar sekaligus ruang rekreasi edukatif bagi masyarakat.

Keempat, manajemen perpustakaan, dengan membekali peserta mengenai tata kelola administrasi serta pengarsipan dan penataan koleksi buku secara rapi dan modern.

Pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengetahuan yang diperoleh para peserta diharapkan diterapkan di masing-masing perpustakaan sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah.

Sinergi antara pemerintah daerah, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, pengelola perpustakaan kampung dan sekolah menjadi modal penting untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Dari perpustakaan-perpustakaan kecil di kampung dan sekolah itulah, harapan besar untuk melahirkan generasi Dogiyai yang gemar membaca, berpengetahuan luas, berkarakter, mencintai budaya sendiri dan memiliki keterampilan hidup dapat mulai ditumbuhkan.

Sebab, generasi emas tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk dari kebiasaan membaca, belajar, berkarya dan mengenal jati diri sejak dini. (don)