Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
NABIRE - Guru adalah pahlawan yang rela berkorban baik jiwa dan raganya demi memperbaharui dan memperbaiki martabat manusia menuju manusia yang sejati. Posisi guru sebelum terbuka isolasi daerah dan sesudahnya, berbeda. Karena saat itu akses transportasi satu-satunya lewat
Bagikan
NABIRE - Guru adalah pahlawan yang rela berkorban baik jiwa dan raganya demi memperbaharui dan memperbaiki martabat manusia menuju manusia yang sejati. Posisi guru sebelum terbuka isolasi daerah dan sesudahnya, berbeda. Karena saat itu akses transportasi satu-satunya lewat pesawat AMA dan MAF. Itupun hanya bisa mendarat di kampung yang ada lapangan terbang. Sementara untuk guru yang jauh dari kampung, harus berjalan kaki entah berapa malam sampai di tempat tujuan.
Dikatakan, Felix Tebai mereka di tempat tugas tidak hanya sebagai guru saja tetapi merangkap berbagai tugas yakni, kadang jadi pewarta, kadang jadi pemerintah, kadang jadi petugas medis, kadang jadi pegawai perkebunan, kadang jadi keamanan dan kadang jadi hakim kampung untuk menyelesaikan masalah dan sebagainya. “Terlebih tahun 1980-an sangat memprihatinkan karena daerah pedalaman Papua sangat terisolasi dan jauh dari sentuhan pemerintah dalam berbagai bidang,” tutur salah seorang guru tamatan SPG yang tugas di berbagai daerah pedalaman dan pensiun tahun 2014, kepada media ini, Minggu (26/10) di kediamannya.Dirinya sebagai guru selama 40 tahun, tentu tidak sedikit kisah dan kenangan yang dilewati selama mengabdi sebagai guru. Kenangan dan kisah merupakan sebuah kenangan tersendiri yang mengandung nilai-nilai hidup tersendiri bila direnungkan.Dikisahkannya, Felix Tebai mulai masuk sekolah yang dulu diistilahkan SR (Sekolah Rakyat) sejak tahun 1955 di Kampung Hage. Saat itu yang mengajar adalah para pewarta tamatan SR juga. Setelah sudah bisa membaca dan menulis pada tahun 1959, melanjutkan pendidikan lebih lanjut. Dirinya melanjutkan PPS namun tujuan dan harapannya gagal karena tidak diterima dengan alasan lewat umur sekolah. Karena dinyatakan tidak lulus maka air mata dan sedihpun mewarnai pada saat itu. Hago adalah kampung yang terletak bagian selatan sekarang termasuk Kampung Digiyou Distrik Sukikai Selatan, Kabupaten Dogiyai.Setelah kembali ke Kampung Hage, semangat sekolah tidak terhenti hingga disitu. Setahun kemudian pada tahun 1960 masuk sekolah di Modio. Di Modio sekolah hanya sampai kelas 3 saja lalu kelas 4 sampai dengan kelas 6 pindah ke Kampung Timeepa hingga selesai. Setelah tamat SD pada tahun 1966 melanjutkan ke SMP di Epouto. Sebenarnya selesai ujian SMP pada tahun 1969, namun berkaitan dengan PEPERA sehingga ujian ditunda, tamat SMP tahun 1970. Selama studi di Epouto, Felix Tebai pernah menjadi ketua studi malam di asrama.Tahun 1970, melanjutkan ke SPG Katolik di Biak. Tetapi tidak lama karena hanya 6 bulan, setelah itu SPG Biak dipindahkan ke Jayapura karena pembangunan gedung SPG di Jayapura Waena sudah selesai. Sewaktu sekolah SPG di Waena Jayapura juga diangkat jadi ketua study malam.Lebih lanjut melewati lika-liku yang panjang akhirnya Felix Tebai menamatkan SPG pada tahun 1973. Setelah tamat langsung pulang ke kampung halaman mengajar sukarela di beberapa tempat yaitu, mengajar di Kampung Tuguda dan Kampung Modio.Waktu mengajar sebagai guru sukarela di Modio, dirinya menikah dengan Yuliana Kotouki. Felix Tebai dan Yuliana Kotouki mempunyai buah hati 11 anak, namun 4 anak sudah meninggal bersama ibunya. Dari 7 anak, 5 anak sudah sarjana, 1 kuliah dan 1 SMA Kelas XII (Kelas 3). Dari 7 anak 3 anak sudah diangkat sebagai PNS sementara 1 pegawai swasta.Setelah satu tahun kemudian, bapak dari 7 anak itu diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sekaligus ditugaskan sebagai Kepala Sekolah SD Inpres Madi, Kabupaten Paniai. Mengajar di Madi tidak lama, hanya 4 tahun, dari tahun 1975 -1979. Pada tahun 1979 dipindahkan ke Bomomani sebagai guru kelas di SD Inpres Bomomani Distrik Mapia Timur Kabupaten Dogiyai. Setelah 2 tahun kemudian dipindahkan ke Diyeugi sekaligus membuka sekolah baru. Pada tanggal 1 September 1981, dipindahkan ke Kampung Diyeugi dengan tugas membuka sekolah berkelas enam. Sampai di Diyeugi kebetulan ada 2 orang, yakni 1 pewarta dan 1 gembala, membuka sekolah berkelas 2 maka langsung buka kelas tiga dan akhirnya pada tahun 1985 pertama kali ikut peserta ujian. SD Inpres DIyeugi sejak dibuka hingga sekarang, guru tidak pernah lengkap, padahal sekolah berkelas 6. Oleh sebab itu, kebanyakan waktu mengajar dari seorang diri dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat itu gedung sekolah mempunyai 9 ruang kelas namun biasanya berfungsi 2 kelas atau 3 kelas saja.Cara pengaturan ruang kelas, kelas 1 dan kelas 2 dijadikan 1 kelas dan kelas 3 sampai kelas 6 kadang jadikan 1 kelas dan kadang jadi 2 kelas tergantung kondisi siswa. Satu ruang kelas terdapat papan tulis sebanyak jumlah kelas yang ada dan papan tulispun berjejer di dinding depan kelas.Setelah pindah ke Diyeugi, Felix Tebai tidak pindah kemana-mana hingga pensiun, menghabiskan pelayanan sebagai guru selama 33 tahun di Diyeugi. Selama 33 tahun telah menamatkan 29 angkatan. Tamatan SD Inpres Diyeugi menghasilkan 30-an sarjana dan D-III serta S2 sebanyak 2 orang. (modes)
Bagikan artikel ini



