Gereja Pison Weinami Diresmikan
NABIRE - Bertempat di Weinami Distrik Napan, Bupati Isaias Douw, S.Sos diwakili Plt. Sekda Nabire, meresmikan dan pentahbisan gedung Gereja Pantekosta di Indonesia “Pison” Weinami Distrik Napan, Minggu (11/5). Hadir dalam acara itu, Ketua Majelis Daerah Gpdi Provinsi Papua,
Bagikan
NABIRE - Bertempat di Weinami Distrik Napan, Bupati Isaias Douw, S.Sos diwakili Plt. Sekda Nabire, meresmikan dan pentahbisan gedung Gereja Pantekosta di Indonesia “Pison” Weinami Distrik Napan, Minggu (11/5). Hadir dalam acara itu, Ketua Majelis Daerah Gpdi Provinsi Papua, Muspida, Ketua Wilayah Timur, Wilayah Barat, dan Wilayah Tengah Gpdi, pimpinan pereja dan para gembala, ketua dan panitia penyelenggara, Jemaat Pison dan undangan lainnya.
Sambutan Bupati Isaias yang dibacakan Plt. Sekda Nabire, Drs. Johny Pasande mengatakan, pembangunan di bidang keagamaan memiliki arti penting, dan menjadi prioritas utama pemerintah dalam upaya meningkatkan pembangunan bagi semua bidang dan sektor. Hal ini dapat kita lihat bahwa didalam setiap program pembangunan, masalah keagamaan selalu dijadikan sebagai dasar dan sasaran yang akan dicapai. Yaitu peningkataan keimanan kepada Tuhan, sebagai landasan moril untuk mencapai tujuan pembangunan. Sebagaimana dalam visi misi pembangunan Kabupaten Nabire, yaitu mewujudkan masyarakat Nabire yang berkeadilan, sejahtera, makmur dan mandiri.
Sebagai wakil Allah di dunia, pemerintah akan terus-menerus melaksanakan pembangunan di berbagai bidang. Termasuk pembangunan di bidang keagamaan, yang difokuskan pada peningkatan mental dan spiritual umat. Sebagai dasar bagi pembangunan, dan semua sendi kehidupan umat manusia.
Lebih lanjut dikatakan, gereja secara fisik merupakan tempat beribadah dan memuliakan nama Allah. Sedangkan gereja secara fungsional merupakan sarana untuk memenuhi tri panggilan gereja, yakni bersaksi, bersekutu dan melayani.
“Atas nama pemerintah daerah, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia pembangunan gereja, dan seluruh warga Pantekosta Jemaat Pison Weinami Distrik Napan serta semua pihak yang turut berpartisipasi, mengerahkan segala pikiran, tenaga, dana dan material yang dimiliki, sehingga pembangunan gereja ini dapat selesai sesuai harapan kita bersama,” kata bupati.
Pada kesempatan itu, bupati mengingatkan, selain pembangunan fisik gedung gereja ini, hal penting yang harus kita lakukan adalah bagaimana membangun dan memaknai gereja dihati kita masing-masing. Agar kita semakin menghayati apa yang diajarkan Yesus dalam kehidupan sehari-harinya. Baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta dalam kehidupan gerejanya.
“Sebagaimana Alkitab Perjanjian Lama, dalam 2 Tawarikh 7 Ayat 16, sekarang telah Kupilih dan Kukuduskan Rumah ini, supaya nama–Ku tinggal disitu untuk selama–lamanya, maka mataKu dan hatiKu akan ada disitu sepanjang masa,” ungkapnya.
Dikatakan bupati, pada hari ini kita semua berbahagia karena telah berdiri megah dihadapan kita sebuah gedung gereja yang merupakan harapan bagi kita, dalam melayani guna meningkatkan keimanan dan memuliakan nama Tuhan. Kehadiran gereja ditengah-tengah masyarakat adalah sebagai simbol persekutuan dan persatuan. Sehingga terjalin rasa persaudaraan dan kebersamaan diantara umat maupun antar umat beragama.
Dengan adanya gereja ini, diharapkan dapat menumbuhkan motivasi umat untuk selalu beribadah. Agar kasih dan damai sejahtera dari Tuhan Allah, selalu menyentuh setiap insan manusia. Apalah artinya bangunan tempat ibadah yang megah tanpa diimbangi dengan kemegahan sikap dan perilaku serta iman pemeluknya.
Lebih lanjut dalam konteks Papua, gereja melalui lembaga–lembaga pelayanan telah menjadi agen pembaharu. Yang berdiri di barisan terdepan untuk membebaskan umat dari keterbelakangan, kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakberdayaan. Menuju kepada kehidupan yang ditandai dengan kedamaian, kebenaran, keadilan dan kesejahteraan hidup yang dikehendaki dan disediakan Tuhan Allah bagi manusia.
Peranan ini hendaknya terus ditingkatkan, dan tidak hanya dilihat dari aspek ritual saja. Tetapi gereja diharapkan dapat melaksanakan fungsi sosialnya, baik dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
“Oleh karena itu saya sangat mengharapkan agar jadikanlah gedung gereja ini sebagai rumah kudus untuk memuliakan nama–Nya. Dan yang lebih penting adalah sebagai tempat pelayanan dan persekutuan, tumbuh dan berkembang bersama umat yang taat kepada Tuhan. Yang pada gilirannya nanti akan membentuk masyarakat yang religius, memiliki moral dan etika yang baik, serta taat terhadap segala ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Melalui motto membara kasih kediri masyarakat, bupati mengingatkan, beberapa waktu yang lalu kita telah rayakan salah satu momentum penting yakni perayan paskah. Dan di bulan ini juga kita akan melaksanakan ibadah sebgai ungkapan rasa syukur kita atas kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Marilah kita maknai momentum ini dengan terus meningkatkan iman dan percaya kepada-Nya. Dengan menjalin kasih pada sesama, memperkokoh rasa persaudaraan dan persatuan, serta mendukung semua program pemerintah daerah, dalam mewujudkan Kota Nabire yang tentram dan damai.
Pada kesempatan itu, bupati juga berpesan kepada pimpinan geraja, panitia peresmian gedung gereja dan seluruh warga jemaat gpdi Pison Wenami, agar dapat merawat, memelihara dan menghidupkan gereja ini. Dengan memberikan pelayanan kepada umat dengan sepenuh hati. Sebab gereja adalah bait Allah, tempat persekutuan sejati dalam tubuh Kristus.
Sementara itu, dalam laporannya, ketua panitia, Wenny Liemantika mengatakan, Gereja GpdI Jemaat Pison adalah Gereja Pantekosta di Indonesia yang pertama di Kabupaten Nabire yang didirikan Alm. Pdt. Charles Sayori dan Ibu Gembala Elisabeth Waromi pada tahun 1956. Namun dengan berjalannya waktu, gedung gereja tersebut hanya meninggalkan puing-puing pondasi pada saat kunjungan penginjilan GPdI Filadelfia Siriwini tahun 2012 silam.
Pembangunan gedung ini merupakan permintaan dari Keluarga Besar Alm. Pdt. Charles Sayori pada saat kunjungan penginjilan tahun 2012 serta surat keputusan Gembala Sidang GPdI Filadelfia Siriwini, tunggal 1 September 2012, tentang pembentukan Panitia Pembangunan kembali Gedung Gereja PISON di Weinami- Distrik Napan.
Pembangunan gedung gereja tersebut memakan waktu selama 1 tahun 8 bulan yang dibagi dalam beberapa tahapan pembangunan. Tahap I September sampai dengan 2012 dengan item pembangunan pondasi kap gereja. Tahap II Maret sampai Juli 2013 dengan item pembangunan gereja. Tahap III Agustus sampai dengan 11 Mei 2014 adalah tahap penyelesaian dan finishing gereja.
Sumber dana pembangunan berasal dari swadaya jemaat ditambah sumbangan para donator serta usaha-usaha lainnya dari panitia. (modes)
Bagikan artikel ini



