NABIRE – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tidak hanya menjadi instrumen pemenuhan gizi bagi anak-anak, tetapi juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila rantai pasok pangan program tersebut melibatkan produsen lokal.

Pandangan itu disampaikan Ketua Dewan Adat Papua Tengah Wilayah Nabire, Herman Sayori, saat ditemui di Pantai Menase, Kelurahan Kalibobo, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Senin (14/9/2026).

Herman mengatakan, manfaat MBG seharusnya dilihat secara lebih luas. Di balik makanan bergizi yang disajikan kepada anak-anak, terdapat peluang ekonomi yang dapat dirasakan nelayan, peternak, petani maupun masyarakat yang menghasilkan bahan pangan.

“Di dalam MBG itu ada nilai ekonomi, ada nilai kesehatan. Itu yang nanti akan mempermudah perputaran ekonomi untuk masyarakat,” kata Herman.

Menurut dia, kebutuhan bahan pangan untuk dapur MBG dapat menjadi bagian dari sebuah rantai ekonomi lokal. Ikan, misalnya, dapat dipasok nelayan setempat. Telur bisa diperoleh dari peternak, sementara sayuran dan bahan pangan lainnya dapat berasal dari hasil kebun masyarakat.

“Kalau ikan yang mereka masak itu ikan dari nelayan, telur dari peternak, maka di dalam sini ada satu rantai kehidupan,” ujarnya.

Herman menilai pola tersebut dapat membuka ruang ekonomi bagi masyarakat yang tidak bekerja di sektor formal. Hasil tangkapan nelayan, hasil kebun maupun produk peternakan yang sebelumnya hanya dijual secara terbatas dapat memperoleh pasar apabila diserap secara rutin untuk kebutuhan MBG.

Dengan demikian, kata dia, program MBG tidak hanya berhenti di dapur penyedia makanan. Perputaran manfaatnya dapat bergerak dari masyarakat sebagai produsen bahan pangan, kemudian masuk ke proses pengolahan hingga akhirnya dikonsumsi anak-anak penerima manfaat.

Selain menggerakkan ekonomi, Herman menilai MBG juga dapat membantu meringankan beban keluarga. Kebutuhan makanan bergizi anak yang selama ini menjadi bagian dari pengeluaran rumah tangga dapat terbantu melalui program pemerintah tersebut.

Namun demikian, ia mengingatkan agar pelaksanaan MBG tetap diawasi secara ketat. Setiap persoalan yang muncul harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan.

“Kalau satu lumbung ada tikus, bukan lumbungnya yang dibakar, tetapi dibenahi bagaimana supaya tikus tidak masuk merusak isi lumbung,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Herman menyikapi adanya dugaan persoalan dalam pelaksanaan MBG, termasuk isu dugaan keracunan makanan. Ia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab sebelum ada pemeriksaan dan hasil resmi dari pihak yang berwenang.

“Biarkan pihak yang berwenang memeriksa dan membuktikan apakah betul racun atau apakah ada penyebab lain, termasuk kalau ada unsur kesengajaan,” katanya.

Menurut Herman, aspek keamanan pangan harus menjadi perhatian utama. Seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan MBG wajib menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara disiplin, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, penyimpanan hingga makanan diterima oleh penerima manfaat.

Ia berharap MBG dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Sebab, pemenuhan kebutuhan gizi anak tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan proses yang konsisten dan berkesinambungan.

“Yang kita jaga bukan hanya makanannya, tetapi juga bagaimana program ini memberikan manfaat bagi kesehatan anak dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkasnya. (Luk)