Belum Terima Gaji, Guru SMA/SMK Stop Mengajar
NABIRE – Nasib guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire hingga kini belum juga beranjak dari situasi yang sangat tidak mengenakkan. Pasalnya,
Bagikan
NABIRE – Nasib guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire hingga kini belum juga beranjak dari situasi yang sangat tidak mengenakkan. Pasalnya, hingga saat ini para pendidik anak-anak Nabire ini belum juga menerima gaji sesuai dengan yang diharapkan. Saat aksi di DPRD Nabire beberapa waktu lalu, ada informasi jika pemerintah Provinsi Papua kemungkinan akan membayarkan gaji para guru SMA/SMK Kabupaten Nabire pada awal bulan April 2018. Jika pemerintah Provinsi Papua belum juga membayarkan, dari pemerintah Kabupaten Nabire berjanji akan menanggulangi terlebih dahulu dengan sumber dana pinjaman.Hanya saja janji itu ternyata belum terpenuhi sepenuhnya. Karena pembayaran gaji beberapa hari lalu hanya untuk satu bulan gaji. Padahal mereka berharap gaji dari bulan Januari hingga April 2018 bisa dibayarkan. Pembayaran sebulan gaji pun ternyata tidak utuh alias ada sejumlah guru yang mengaku kekurangan gaji dari 300 hingga 600 ribu. Tak hanya itu, ada sekitar 30-an guru yang lebih tragis lagi nasibnya. Karena sekitar 30-an guru itu justeru belum menerima gaji sepeser pun.Kondisi ini berimbas dilakukannya aksi keprihatinan para guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire. Sejak Senin (16/4) lalu, sejumlah guru SMA/SMK tidak bisa melaksanakan tugasnya untuk mengajar di sekolah masing-masing. Aksi tidak mengajar ini, menurut informasi, akan berlangsung hingga gaji mereka dibayarkan.Hal ini dibenarkan oleh pelaksana harian di lapangan dari organisasi PGRI Nabire, Peris Banjarnahor, saat dikonfirmasi media ini, Selasa (17/4) kemarin. Kata dia, para guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire membuat aksi keprihatinan dengan tidak pergi mengajar. Hal ini dilakukan karena pihakknya sudah 4 bulan tidak menerima gaji.“Untuk ke sekolah kita perlu bensin, kita perlu mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, biaya untuk anak-anak sekolah, anak-anak mau sekolah di luar nabire karena sudah selesai UN,” ujarnya.Kata dia, sepertinya tidak dihargai apa yang kita kerjakan sehingga dilakukan aksi ini untuk meminta perhatian. “Kami manusia, anak istri kami butuh makan, butuh uang sekolah. Kami tidak mogok tapi keadaan membuat kami tidak bisa melaksanakan tugas karena kami mencari nafkah ditempat lain,” ujarnya. Dikatakan Peris, saat aksi di Kantor DPRD Nabire pernah dijanjikan gaji akan dibayarkan untuk beberapa bulan sekaligus pada awal April 2018 lalu. Namun yang terjadi hanya dibayarkan untuk satu bulan. Dan pembayaran gaji satu bulan berdasarkan laporan dari teman-teman, apa yang diterima tidak sesuai dengan jumlah struk gaji bulan Desember. Ada guru yang mengaku kekurangan sebesar 600 ribu ada yang kurang 350 ribu, ada yang kurang 300 ribu.“Saya sendiri dan ada 30-an teman guru tidak terima satu rupiah pun. Dengan kondisi ini kami curiga apa yang dibayarkan itu hanyalah dana talangan, bukan gaji. Dan ini harus dijelaskan. Tapi dari dinas pendidikan mengaku tidak tahu, dari BPKAD Nabire juga mengaku tidak tahu, Bank Papua juga mengaku tidak tahu. Lalu kita mau bertanya ke siapa. Maka kita minta perhatian dengan jalan tidak pergi ke sekolah dan pasang spanduk tidak mengajar,” paparnya.Disinggung lamanya aksi, jawa dia, aksi ini akan terus dilakukan sampai gaji dibayarkan. Jika besok gaji dibayar, besok juga para guru akan kembali bekerja. Namun jika gaji dibayarkan pada Desember mendatang, maka para guru juga baru akan mengajar pada bulan Desember mendatang.“Kami harus berpikir mencari penghasilan karena kebutuhan tiap hari yang harus kita penuhi,” tambahnya.Lebih lanjut dikatakan, aksi ini dilakukan pada dasarnya keseluruhan guru SMA/SMK di Kabupaten Nabire. Hanya saja ada beberapa kepala sekolah yang tidak merestui, maka gurunya takut terlibat. Hal ini, kata dia, justeru kontra produktif, karena sebenarnya provinsi ini perlu ditekan dengan jalan guru-guru beraksi.“Kalau guru beraksi maka anak rugi, anak rugi akan lapor orang tua, orang tua akan tanya dan guru akan jelaskan. Maka orang tua juga akan ikut memberikan tekanan supaya yang disana kerja. Ini kan uang negara, bukan pabrik batu bata yang rugi karena tidak ada pembeli batu,” ujarnya. Soal adanya kekurangan gaji yang dibayarkan satu bulan, lanjut dia, ini menimbulkan pertanyaan data yang diberikan oleh kabupaten ke provinsi. Jika datanya valid maka pembayaran gaji tentu saja tidak akan terjadi kekurangan.“Kami ini bergerak dibawah organisasi profesi PGRI yang diketuai oleh Pak Ramandey. Saya sebagai pelaksana harian di lapangan. Kami justeru mengharapkan dari pemerintah yang datang kepada kami, karena kami pada beberapa waktu yang lalu sudah datangi mereka. Sekarang kami bikin gerakan harapannya mereka yang datang kepada kami untuk menjelaskan,” ujarnya. Mencari Nafkah di Tempat LainSebagai bentuk protes dan aksi keprihatinan atas belum dibayarkannya gaji guru SMA/SMK di Nabire, sejumlah guru SMA/SMK di Nabire menggelar aksi keprihatinan dengan untuk sementara waktu tidak melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Mereka harus mencari nafkah di tempat lain untuk tetap menghidupi dan menafkahi keluarganya.Aksi yang digelar di sejumlah SMA/SMK di Nabire tersebut ditandai dengan pembentangan spanduk di Sekolah yang bertuliskan “Aksi Keprihatinan, Kami Para Guru SMA/SMK sudah 3-4 bulan tidak mendapat gaji, mulai senin tidak bisa mengajar, terpaksa cari nafkah di tempat yang lain. Jika gaji bulan Januari – April dibayarkan, kami akan mengajar. Siswa dan orangtua siswa mohon doakan kami”.Salah seorang guru mengatakan, masih ada 42 guru yang sama sekali belum menerima gajinya sejak bulan Januari 2018.“Ada juga guru yang sudah terima gaji, tapi mereka baru terima 1 bulan gaji saja, sedangkan yang lainnya belum terima gaji sama sekali,” ujarnya.Walaupun para guru tersebut belum menerima gaji, namun mereka tetap melaksanakan tugasnya, seperti menyuskeskan pelaksanaan Ujian Nasional pekan lalu.Ketika ditanyakan bahwa ada sejumlah sekolah yang gurunya tetap mengajar, kata dia, guru tersebut sudah menerima gaji sehingga mereka tetap melaksanakan tugasnya. (ros)
Bagikan artikel ini



