NABIRE – Sekolah Dasar (SD) Negeri Wadio Tengah, Distrik Nabire Barat sedang kekosongan tenaga guru dan perumahan guru. Sekitar 3 tahun SD ini hanya dipertahankan oleh seorang tenaga sukarela. Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire baru menempatkan kepala sekolah pada pertengahan 2017 lalu. Kepala SD Negeri Wadio Tengah, Manfred Degey di Komplek KPR Jayanti, Senin (29/1) mengatakan, sekolahnya membutuhkan tenaga guru. Karena, selama ini, sejak 2014 lalu, sekolah ini sudah tidak ada guru, eksistensi sekolah hanya dipertahankan oleh seorang tenaga sukarela. Akibatnya, sekolah tersebut tidak membuka kelas tiga ke atas, hanya bertahan dengan dua kelas yakni kelas I dan II. Manfred menambahkan, akibat dari tidak adanya guru, orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke SD Negeri KPR Wadio, SD Negeri Gerbangsadu sehingga jumlah anak didik terbatas. Padahal jumlah anak usia SD cukup banyak di Wadio Tengah. Kepala SD yang baru ditempatkan pertengahan 2017 ini menjelaskan, sekolah tersebut dibuka sejak 2012 lalu. Sekolah efektif selama dua tahun yakni tahun 2012 dan 2013. Mulai tahun ajaran 2014, tidak ada guru yang bertugas di SD ini setelah kepala sekolah pindah bertugas ke Kabupaten Dogiyai. Sejak saat itu, hanya tenaga sukarela, Soter Belau mempertahankan sekolah dengan mengajar di kelas I dan II dengan menitikberatkan pada belajar membaca, menulis dan menghitung sebagai pengetahuan dan kemampuan dasar bagi anak-anak usia sekolah. Manfred menilai untuk mengefektifkan SD Negeri Wadio Tengah, Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire menempatkan tenaga guru yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga guru honorer. Karena, potensi anak usia sekolah cukup dan punya prospek untuk dikembangkan menjadi SD berkelas VI. Selain itu, sesuai hasil pertemuan dengan warga Kampung Wadio Tengah, warga meminta agar pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan untuk membebaskan lokasi sekolah seluas 1 Ha dan membangun rumah berupa kopel guru. Karena hingga saat ini, lokasi SD tersebut tidak ada pelepasan sehingga masih diatas lahan warga. Ia menambahkan, rumah guru berupa kopel dua atau tiga pintu agar guru yang ditempatkan di sekolah ini betah sehingga aktifitas kegiatan belajar mengajar lancar sehingga warga pribumi yang berdiam di Wadio juga menikmati pendidikan dasar seperti halnya warga Negara Indonesia lain di luar Wadio Tengah.(ans)