NABIRE – Demi memberikan suasana baru di luar rutinitas gedung gereja sekaligus memulihkan semangat spiritual jemaat, Sinode Gereja Bethel Gereja Pentakosta (GBGP) di Tanah Papua menggelar Ibadah Padang, Minggu (18/10/2026).

Selain sebagai bentuk penyegaran imaniah, momen ini menjadi wadah krusial untuk mempererat kebersamaan, membangun keakraban, solidaritas serta merajut relasi yang lebih kuat di antara sesama jemaat dari berbagai kelompok usia.

Ajang refleksi alam terbuka ini terasa semakin spesial karena bertepatan dengan momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 GBGP.

Ketua Umum Sinode GBGP di Tanah Papua, Pdt. Portunatus Numberi, SE., MKD., mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas suksesnya acara ini. Antusiasme warga jemaat terbukti meledak dan melampaui prediksi awal pihak panitia.

“Puji Tuhan. Awalnya panitia mencatat dan mempersiapkan akomodasi serta transportasi, baik dari luar daerah maupun wilayah terdekat, untuk sekitar 710 peserta. Namun, di luar dugaan, kehadiran kita hari ini justru mencapai 1.700 orang,” ujar Pdt. Portunatus Numberi dengan penuh sukacita.

Ia tidak menampik bahwa dengan membeludaknya jumlah peserta, panitia dan jemaat sempat menghadapi berbagai tantangan serta keluhan teknis di lapangan. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kekhusyukan dan kegembiraan jemaat selama ibadah berlangsung.

“Semua keluhan itu Tuhan jawab. Firman Tuhan sudah jelas menyatakan bahwa manusia boleh berpikir dan berencana ke sana-kemari, tetapi keputusan Tuhanlah yang terbaik dan terlaksana,” tuturnya bijak.

Lebih lanjut, Pdt. Portunatus menegaskan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut ini harus dimaknai sebagai tonggak sejarah penting bagi eksistensi GBGP di tengah masyarakat Papua.

Melalui perayaan HUT ke-70 ini, GBGP berkomitmen untuk terus berjalan beriringan dan berdampak positif bagi komunitas sekitar.

“Momen hari ini, kemarin dan beberapa hari lalu adalah momen-momen terpenting bagi kita semua. Mari kita sama-sama bersatu dan mempertahankan semangat pelayanan ini sampai Tuhan datang kembali,” pesannya di hadapan ribuan jemaat.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara, meski di tengah keterbatasan.

“Walaupun ada kekurangan, itu adalah hal kemanusiaan yang biasa. Namun, ketika kita mendahulukan Tuhan di atas segalanya, maka kesempurnaan dan jalan keluar itu pasti dinyatakan,” pungkasnya optimis. (rob)