NABIRE - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan segera menjalankan program pembinaan petani kopi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kopi lokal. Program tersebut dijadwalkan mulai pekan depan dengan menyasar 50 petani kopi di setiap kabupaten.

Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, untuk memperkuat sektor perkebunan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Papua Tengah sekaligus Ketua Panitia Festival Kopi, Andreas Gobai, Kamis (29/10/2026), usai pelaksanaan Festival Kopi di Aula KSK Bukit Meriam, Nabire.

Andreas mengatakan, pelaksanaan program akan diawali dengan pertemuan bersama para petani, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan secara langsung.

“Mulai Minggu depan kita sudah eksekusi. Perintah arahan Gubernur sudah jelas; yang pertama pertemuan dengan petani, yang kedua kita bina petani,” ujar Andreas.

Program pembinaan ini menyasar sejumlah daerah yang menjadi sentra penghasil kopi di Papua Tengah, yakni Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, Paniai, Dogiyai dan Nabire. Sementara itu, Kabupaten Deiyai direncanakan menyusul pada tahun berikutnya.

Untuk memastikan program berjalan efektif, Pemprov Papua Tengah telah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Asosiasi Kopi Indonesia (Aski).

Melalui kerja sama tersebut, para ahli dari Aski akan memberikan pendampingan teknis kepada petani, mulai dari teknik penanaman, perawatan tanaman, pemilihan biji kopi berkualitas hingga penanganan pascapanen.

Menurut Andreas, pendampingan ini penting agar petani tidak hanya mampu menghasilkan kopi dalam jumlah besar, tetapi juga memahami standar budidaya yang baik untuk menghasilkan produk berkualitas.

“Nanti dibina oleh Asosiasi Kopi Indonesia. Bagaimana cara menanam, merawat, memilih biji, dan seterusnya, itu segera kita eksekusi dalam waktu yang singkat. Anggaran sudah siap,” tegasnya.

Andreas menjelaskan, kopi Papua Tengah memiliki potensi besar dari sisi produksi dan telah dikenal sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Namun, peningkatan kualitas masih menjadi pekerjaan penting agar kopi lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Melalui program pembinaan dengan kurikulum yang terarah dari ASKI, para petani diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola tanaman kopi, mulai dari proses budidaya hingga menghasilkan biji kopi berkualitas.

Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Pemprov Papua Tengah menyiapkan anggaran lebih dari Rp1 miliar. Dana itu dialokasikan untuk kebutuhan operasional dan pendampingan petani di kabupaten-kabupaten sasaran.

Andreas menegaskan, pembinaan dirancang agar memberikan manfaat nyata bagi petani dengan tetap memperhatikan efisiensi biaya pelaksanaan.

“Kita ingin yang paling penting murah, murah tapi bermanfaat. Harapannya petani punya pemahaman dan pengetahuan bagaimana cara budidaya yang benar, sehingga kualitas kopi kita semakin baik,” pungkasnya.

Melalui program ini, Pemprov Papua Tengah berharap peningkatan kapasitas petani dapat mendorong kualitas kopi lokal, memperkuat daya saing komoditas perkebunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil kopi. (luk)